Senin, 14 Januari 2019

CARA DISTRIBUSI IKAN YANG BAIK

CARA DISTRIBUSI IKAN YANG BAIK

3.1. Pengertian Distribusi Hasil Perikanan
Distribusi hasil perikanan adalah rangkaian kegiatan penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain sejak produksi, pengolahan sampai pemasaran. Hal yang paling prinsip dalam proses distribusi hasil perikanan adalah mempertahankan kondisi alat/wadah/sarana yang digunakan dalam proses distribusi agar produk yang didistribusikan sampai ke tempat tujuan dengan tetap mempertahankan mutu/kualitasnya. Oleh karena itu, distributor/penyalur hasil perikanan harus memahami persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses distribusi hasil perikanan.
Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam distribusi ikan yang baik, diantaranya:
1.         Distribusi hasil perikanan yang menggunakan sarana transportasi:
a.   Harus bersih dan mampu menghindari kontaminasi;
b.   Didesain  sedemikian  rupa  sehingga  tidak  merusak  produk,  di  mana permukaannya harus rata, mudah dibersihkan, dan disanitasi;
c.    Apabila menggunakan  es sebagai pendingin, harus dilengkapi saluran pembuangan untuk menjamin lelehan es tidak menggenangi produk;
d.   Dilengkapi  peralatan  untuk  menjaga  suhu  tetap  terjaga  selama pengangkutan; dan
e.   Mampu melindungi produk dari resiko penurunan mutu
2.    Sarana berupa kendaraan pengangkut tidak digunakan untuk tujuan lain secara bersamaan untuk menghindari terjadinya kontaminasi terhadap produk hasil perikanan;
3.    Apabila kendaraan pengangkut digunakan untuk mengangkut produk lain secara  bersamaan,  harus  dipisahkan  dan  dijamin  kebersihannya  agar tidak mengkontaminasi produk hasil perikanan;
4.    Pengangkutan  hasil  perikanan  tidak  boleh  dicampur  dengan  produk  lain yang  dapat  mengakibatkan  kontaminasi  atau  mempengaruhi  higiene, kecuali  produk  tersebut  dikemas  sedemikian  rupa,  sehingga  mampu melindungi produk tersebut; dan
5.    Pengangkutan  hasil  perikanan  dalam  keadaan  hidup  harus  mampu mempertahankan  hasil  perikanan  tersebut  tetap  terjaga  kondisi  dan mutunya.
Teknik/cara distribusi produk hasil perikanan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya; jenis produk, jenis alat angkut, dan kondisi penyimpanan. Proses distribusi untuk produk kering berbeda dengan produk basah. Begitupun dengan jenis alat angkut yang digunakan, bila produk yang didistribusikan berupa produk basah, maka sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi dengan alat pendingin. Jenis produk yang didistribusikan juga akan berpengaruh terhadap kondisi penyimpanan, sehingga kondisi penyimpanan harus disesuaikan dengan jenis produk yang akan didistribusikan.

3.2. Cara Distribusi Ikan Yang Baik
Pada dasarnya distribusi produk hasil perikanan dapat dilakukan dengan model penerapan system rantai dingin. Dalam system ini suhu ikan hasil tangkapan/panen diupayakan selalu tetap rendah agar terjaga kesegarannya, yakni dengan mengoptimalkan penggunaan es dalam penyimpanannya.
Sistem rantai dingin yang diterapkan dalam distribusi dan transportasi ikan dipersyaratkan bahwa semua kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan ikan harus mampu mempertahankan suhu dingin yang dibutuhkan baik untuk ikan segar maupun mengawetkan produk beku. Akan lebih baik dengan menggunakan pintu dalam yang dapat menutup sendiri dengan fleksibel untuk mengurangi kehilangan udara dingin waktu pintu kendaraan pengangkut dibuka. Pada pengangkutan jarak jauh sebaiknya suhu dipertahankan dan selalu dijaga pada -18oC atau lebih rendah dan ini bisa dicapai dengan pendinginan mekanis, pemakaian es kering, sirkulasi gas cair yang dingin. Untuk refrigerasi dan ketelitian dalam pemuatan, operasi dan pemeliharaannya, sewaktu-waktu harus diperiksa dengan mengukur suhu produk pada awal dan akhir perjalanan.Pengangkutan harus dilakukan dengan hati-hati agar produk perikanan tidak terkena suhu tinggi selama pemuatan dan pembongkaran kendaraan pengangkut. Model pengembangan system rantai dingin yang ditujukan bagi proses distribusi adalah dengan penyediaan sarana sebagai berikut:
1.    Truk ber-refrigerasi (refrigerated truck)
Truk berefrigerasi merupakan alternative alat transportasi produk perikanan yang baik diterapkan untuk transport jarak jauh dan yang memakan waktu cukup lama.
2.    Truk berinsulasi (insulated truck)
Kebutuhan refrigerasi untuk mengangkut ikan dapat ditekan sekecil mungkin dengan cara menginsulasi seluruh bagian sarana angkut sebaik mungkin, yakni atap, dinding, dan lantai. Hal ini dilakukan agar suhu ikan tidak cepat meningkat selama proses distribusi dan agar kapasitas ikan yang diangkut agar lebih besar. Penyusunan peti wadah ikan dalam truk berinsulasi disusun rapat sesamanya agar panas tidak menyelinap diantara peti, serta diberi lapisan alas es di bawah tumpukan peti dan lapisan es lagi di atas tumpukan.
3.    Mobil angkut pick up
Fasilitas mobil pick up dalam suatu unit pengolahan ikan dapat digunakan untuk mengangkut kebutuhan proses pengolahan, serta untuk mendistribusikan produk olahan non beku yang sudah dikemas dengan baik untuk jarak tidak terlalu jauh.
4.    Sepeda motor dilengkapi box berinsulasi
Alat ini dirancang dengan harga yang relative murah tetapi mempunyai daya guna yang maksimal.Alat tersebut berkapasitas 50 kg/wadah. Setiap motor yang digunakan mempunyai dua wadah. Usia produktif alat ini diperkirakan minimal sampai lima tahun.
5.    Becak dilengkapi box berinsulasi
Fungsi becak berinsulasi sama dengan motor berinsulasi yakni untuk mendistribusikan produk perikanan, dengan tetap menjaga kesegarannya karena sudah didesain sedemikian rupa. Namun penggunaan becak ini terbatas dari segi wilayah karena hanya bisa digunakan dalam jarak dekat.
6.    Cool box
Dalam proses distribusi, cool box terutama digunakan sebagai wadah penyimpanan produk hasil perikanan. Untuk keperluan penyimpanan, distribusi dan penjajaannya dilakukan dalam wadah cool box dengan menyelimuti seluruh badan ikan dengan es curia. Caranya adalh sebagai berikut:
-       Pertama-tama menempatkan es curia yang lebih tebal dibagian dasar wadah, kemudian menempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya, selanjutnya ditempatkan lagi lapisan es diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan es yang lebih tebal.
-       Pada ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil, proses seperti ini juga sekaligus merupakan proses meninginkannya. Efektifitas pendinginannya sangat tergantung kepada ketebalan lapisan ikan, ketebalan lapisan (kecukupan) es, dan kekedapan wadah (cool box) terhadap penetrasi panas.
-       Pada kondisi pengemasan hanya satu lapisan ikan dan lapisan tersebut dapat diselimuti dengan sempurna oleh es curia, maka dilihat jelas bahwa ketebalan lapisan dan suhu awal ikan sangat menentukan kecepatan pendinginan, dimana semakin tebal lapisan dan semakin tinggi suhu awal ikan maka waktu yang dibutuhkan untuk mendinginkannya akan semakin lama.
-       Dari sisi kebutuhan es, selain ditentukan oleh jumlah ikan yang didinginkan juga ditentukan oleh suhu awal ikan dan suhu udara luar disekitar wadah atau cool box, dimana semakin tinggi suhunya maka jumlah es yang dibutuhkan akan semakin banyak.

7.    Trays/kranjang
Fungsi trays dan keranjang dalam proses distribusi adalah untuk menampung produk olahan ikan sebelum dikemas dan didistribusikan. Untuk produk segar/beku, ikan harus tetap dijaga kesegarannya dengan menambahkan es selama ditampung dalam trays.

8.    Sarana sanitasi dan hygiene
Dalam proses distribusi, sarana sanitasi dan hygiene diperukan untuk menjaga kondisi sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut produk-produk perikanan agar tetap bersih, sehingga kesegaran ikan selama proses distribusi tetap terjaga.
Selain dalam bentuk fresh/segar dan beku, produk hasil perikanan juga dapat didistribusikan dalam bentuk ikan hidup. Biasanya ikan-ikan yang dipasarkan dalam keadaan hidup adalah ikan-ikan dari hasil budidaya atau ikan karang yang mempunyai nilai jual cukup tinggi.Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering.
1.    Pengangkutan Sistem Basah
Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :
a)   Sistem Terbuka
Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.

b)   Sistem Tertutup
Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan (harus sehat dan baik), oksigen, suhu (15 – 20oC untuk ikan didaerah tropis), pH (7 – 8), CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (perbandingan antara volume ikan dengan volume air adalah 1:3 sampai 1:2).
        Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih yang disebabkan banyaknya lendir dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkutisi perut masih ada,sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya metabolisme yang sangat tinggi pada saat pengangkutan, maka sebaiknya ikan diberok terlebih dahulu minimal 1 hari sebelum ikan diangkut dengan cara dipuasakan.

2.    Pengangkutan Sistem Kering (Semi Basah)
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar.
Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
   Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap.
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi.
Cara pemingsanan ikan akan berbeda untuk setiap jenis ikan. Namun demikian, secara umum Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.
a.   Pemingsanan dengan menggunakan suhu rendah
Ini dapat dilakukan dengan cara, yakni (a) penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukkan dalam air yang bersuhu 10o – 15oC , sehingga ikan pingsan; dan (b) penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.
b.   Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Beberapa bahan anestasi yang dapat digunakan dalam pembiusan ikan antara lain:
NO
BAHAN
DOSIS
1
MS-222
0.05 mg / l
2
Novacaine
50 mg / kg berat ikan
3
Barbitas sodium
50 mg / kg berat ikan
4
Ammobarbital sodium
85 mg / kg berat ikan
5
Methyl paraphynol (dormisol)
30 mg / l
6
Tertiary amyl alcohol
30 mg / l
7
Choral hydrate
3-3.5 g lt
8
Urethane
100 mg / l
9
Hydroksi quinaldine
1 mg / l
10
Thiouracil
10 mg / l
11
Quinaldine
0.025 mg / l
12
2-Thenoxy ethanol
30 – 40 ml / 100 lt
13
Sodium ammital
52 – 172 mg / l

Pembiusan  ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu : (1) Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani, (2) Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, dan (3) Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran. Yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan anestasi ini adalah, apakah bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan potensi bahaya bagi manusia atau tidak.




c.    Pemingsanan ikan dengan arus listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.
Setelah ikan pingsan selanjutnya adalah pengemasan. Pada pengangkutan ikan hidup dengan system kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.
Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia. Diantara beberapa jenis bahan pengisi, sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu : berongga, mempunyai kapasitas dingin yang memadai, dan tidak beracun.Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya.
Adapun cara pengemasannya adalah sama dengan cara pengemasan produk ikan segar/beku yang ditransportasikan dengan menggunakan cool box, dimana ikan disusun berlapis dengan serbuk gergaji. Wadah yang digunakan dalam proses pengangkutan ikan hidup dengan sistem kering dapat berupa sterefoam. Caranya pengemasannya adalah sebagai berikut:
-        Pertama-tama tempatkan serbuk gergaji yang telah didinginkan (suhu 8 – 10oC) dibagian dasar wadah;
-        Kemudian tempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya;
-        Selanjutnya ditempatkan lagi lapisan serbuk gergaji diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan serbuk gergaji;
-        Sebaiknya boks sterefoam ditutup sangat rapat untuk menghindari udara panas dari luar masuk ke dalam wadah.
Setelah dikemas, selanjutnya ikan siap didistribusikan. Boks-boks sterefoam yang berisi ikan dimasukkan kedalam alat angkut (mobil) yang telah dimodifikasi dengan menambahkan lapisan insulasi pada sekeliling dindingnya. Hal ini untuk menghambat udara panas dari luar yang akan masuk kedalam ruang penyimpanan. Selama dalam transportasi, pengontrolan suhu ruang perlu dilakukan secara rutin dan diupayakan untuk tetap stabil.
Pada saat tiba ditempat tujuan, ikan segera disadarkan. Proses penyadaran adalah dengan mengembalikan ikan sesuai dengan suhu pada habitatnya. Caranya adalah sebagai berikut:
-        Siapkan wadah (bak) yang telah dilengkapi dengan aerasi sehingga oksigen dalam air tercukupi dan sirkulasi dapat berjalan dengan baik.
-        Cuci ikan dengan bersih untuk menghilangkan lendir dan sisa-sisa serbuk gergaji yang masih menempel pada tubuh ikan.
-        Kemudian masukkan ikan kedalam bak.
-        Untuk mempercepat proses penyadaran perlu adanya sedikit rangsangan dengan cara menggerak-gerakkan badan ikan pada buih aerator.
-        Umumnya ikan akan sadar dalam waktu ±10 menit.

Berbicara distribusi hasil perikanan di tingkat supplier/pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, maka kita tidak hanya berbicara mengenai sarana distribusi seperti sarana transportasi saja namun juga berbicara mengenai sarana distribusi lainnya, salah satunya adalah pelabuhan perikanan.
Dalam Undang-Undang No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dinyatakan bahwa pelabuhan perikanan sebagai suatu  lingkungan kerja salah satunya berfungsi sebagai  pusat pemasaran dan distribui hasil perikanan. Sedangkan dalam pasal 15 ayat (3) huruf a Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa pelabuhan perikanan memiliki fasilitas funfsional salah satunya adalah fasilitas pemasaran hasil perikanan seperti tempat pelelangan ikan (TPI) dan pasar ikan.
Tempat pemasaran/distribusi hasil perikanan seperti TPI dan Pasar Ikan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.    terlindung dan mempunyai dinding yang mudah untuk dibersihkan;
b.    mempunyai lantai yang kedap air yang mudah dibersihkan dan disanitasi, dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan mempunyai sistem pembuangan limbah cair yang higiene;
c.    dilengkapi dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan toilet dalam jumlah yang mencukupi. Tempat cuci tangan harus dilengkapi dengan bahan pencuci tangan dan pengering sekali pakai;
d.    mempunyai penerangan yang cukup untuk memudahkan dalam pengawasan hasil perikanan;
e.    kendaraan yang mengeluarkan asap dan binatang yang dapat mempengaruhi mutu hasil perikanan tidak diperbolehkan berada dalam tempat Pemasaran Ikan/pasar grosir;
f.     dibersihkan secara teratur minimal setiap selesai penjualan;
g.    dilengkapi dengan tanda peringatan dilarang merokok, meludah, makan dan minum, dan diletakkan di tempat yang mudah dilihat dengan jelas;
h.    mempunyai fasilitas pasokan air bersih dan atau air laut bersih yang cukup;
i.      mempunyai wadah penampungan produk yang bersih, tahan karat, kedap air dan mudah dibersihkan; dan
j.      mempunyai penampungan pengolahan limbah.
Selain persyaratan tersebut, tempat pemasaran hasil perikanan juga harus memenuhi persyaratan hygiene dan penerapan system rantai dingin.

SUMBER:
Anonim, 1989. Petunjuk Praktis Penanganan dan Transportasi Ikan Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan,  Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Penanganan Tuna Loin Segar. Balai Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, Jakarta.
Anonim, 1992. Petunjuk Teknis Transportasi Ikan Hidup Dengan Cara Dipingsankan. Bimbingan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta
Anonim, 2007. Juknis Penerapan Sistem Rantai Dingin dan Sanitasi Higiene di Unit Pengolahan Ikan. Direktorat Pengolahan Hasil. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Undang-Undang RI No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Keputusan Menteri KP No 10 Tahun 2004 tentang Pelabuhan Perikanan
Keputusan MenterI KP No 52A Tahun 2013 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Kemanana Hasil Perikanan Pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi.


Sumber : http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.com/2014/11/cara-distribusi-ikan-yang-baik.html

PERAN PAKAN DALAM KEBERHASILAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR

PERAN PAKAN DALAM KEBERHASILAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR

ABSTRAK
Kebutuhan ikan sebagai sumber protein meningkat pesat, ditengah semakin langkanya ikan tangkapan dari laut, budidaya ikan air tawar menjadi pilihan untuk memenuhi permintaan pasar. Pakan yang baik pada ikan dalam sistem produksi  adalah hal yang penting untuk memproduksi ikan yang sehat dan berkualitas tinggi. Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap lingkungan. Pemilihan pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan usaha. Beberapa hal yang ingin dijelaskan dalam artikel ini adalah kelebihan pakan alami dan pakan buatan, pemilihan pakan ikan yang tepat, teknis untuk menjaga kualitas air terhadap limbah pakan, perhitungan konversi dan efisiensi pakan, serta peran pakan dalam keberhasilan budidaya ikan.

Kata kunci: peran pakan ikan, pengelolaan pakan, keberhasilan budidaya ikan.

A.   LATAR BELAKANG
Ikan merupakan bahan pangan yang banyak digemari, karena memiliki kandungan yang kaya akan vitamin A, vitamin D, fosfor, magnesium, selenium, yodium, serta kalsium. Secara mendasar ikan memiliki protein hewani yang sama dengan daging sapi, namun kelebihan ikan adalah memiliki kandungan total lemak yang paling rendah dibandingkan sumber protein hewani lainnya dan nutrisinya sangat mudah diserap tubuh.
Besarnya kandungan gizi ikan, harga ikan yang relative murah dan semua agama menghalalkan konsumsi ikan menyebabkan tingginya permintaan akan ikan. Kebutuhan ikan sebagai sumber protein meningkat pesat, ditengah semakin langkanya ikan tangkapan dari laut, budidaya ikan air tawar menjadi pilihan untuk memenuhi permintaan pasar.
Pakan yang baik pada ikan dalam sistem produksi  adalah hal yang penting untuk memproduksi ikan yang sehat dan berkualitas tinggi. Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap lingkungan. Pemilihan pakan yang tepat dapat meningkatkan produktivitas budidaya perikanan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan usaha. Berdasarkan beberapa keadaan dan permasalahan tersebut perlu dilakukan penulisan ilmiah mengenai “Peran Pakan dalam Keberhasilan Budidaya Ikan Air Tawar” dalam rangka turut memberikan masukan kepada pihak terkait.

B.   TUJUAN PENULISAN ARTIKEL
Berdasarkan permasalahan pada bagian latar belakang, tujuan penulisan artikel ini adalah:
1.   Menjelaskan kelebihan yang dimiliki oleh pakan alami dibandingkan dengan pakan buatan.
2.   Menjelaskan kelebihan yang dimiliki oleh pakan buatan dibandingkan dengan pakan alami.
3.   Menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan pakan ikan yang tepat.
4.   Menjelaskan teknis untuk menjaga kualitas air dalam budidaya ikan agar tidak terganggu oleh limbah pakan atau limbah lainnya.
5.   Menjelaskan alasan mengapa kita perlu melakukan perhitungan konversi dan efisiensi pakan.
6.   Menjelaskan seberapa penting pakan menentukan keberhasilan budidaya ikan.

C.   TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Darmanto (2000), Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva atau benih ikan dan udang. Beberapa jenis pakan alami yang sesuai untuk benih ikan air tawar, antara lain lnfusoria (Paramaecium sp.), Rotifera (Brachionus sp.), Kladosera (Moina sp.), dan Daphnia sp. Pakan alami tersebut mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan mudah dicerna dalam usus benih ikan. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil sangat sesuai dengan lebar bukaan mulut larva/benih ikan. Sifatnya yang selalu bergerak aktif akan merangsang benih/larva ikan untuk memangsanya. Pakan alami ini dapat diibaratkan "air susu ibu" bagi larva/benih ikan yang dapat memberikan gizi secara lengkap sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Pelet adalah bentuk makanan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang kita ramu dan kita jadikan adonan, kemudian kita cetak sehingga bentuknya merupakan batangan kecil-kecil seperti bentuk obat nyamuk bakar. Panjangnya biasanya berkisar 1-2 cm. Jadi pelet tidak berupa tepung, tidak berupa butiran, dan juga tidak berupa larutan (Mudjiman, 1996). Menurut Syahputra (2009) usaha budidaya ikan saat ini semakin intensif menuntut tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesinambungan.
Ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya ikan. Pakan berkualitas harus memiliki kandungan nutrisi ikan dan mudah dicerna, sehingga dapat diserap oleh tubuh ikan (Khairuman dan Amri, 2002).
Konversi dan efisiensi pakan erat hubungannya dengan nilai kecernaan yang menggambarkan persentase nutrien yang dapat diserap oleh saluran pencernaan tubuh ikan. Semakin besar nilai kecernaan suatu pakan maka semakin banyak nutrien pakan yang dimanfaatkan oleh ikan tersebut. Penyerapan nutrien oleh tubuh dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas pakan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Nutrien yang dimanfaatkan oleh ikan dapat mempengaruhi penyediaan energi protein dan non protein dalam tubuh. Semakin banyak energi yang tersedia dalam tubuh akan meningkatkan kemampuan ikan untuk mengubah energi tersebut dan disimpan dalam bentuk daging berupa protein dan lemak (Akbar, 2000).

D.   PEMBAHASAN
Kelebihan Pakan Alami dan Pakan Buatan
Kelebihan yang dimiliki oleh pakan alami dibandingkan dengan buatan, antara lain adalah: (a) Harga pakan alami relative lebih murah jika dibandingkan pakan buatan; (b) Pakan alami umumnya mudah dicerna, nilai gizi pakan alami lebih lengkap,  sesuai dengan tubuh ikan, dan tidak menyebabkan penurunan kualitas air pada wadah budidaya ikan; dan (c) Tingkat pencemaran terhadap air kultur akan lebih rendah daripada menggunakan pakan buatan.
Sedangkan kelebihan yang dimiliki oleh pakan buatan dibandingkan dengan pakan alami, antara lain adalah: (a) Kelebihan pakan buatan adalah mengurangi kemungkinan penularan penyakit (dibandingkan dengan makanan alami). Pakan alami adalah organisme hidup yang tentunya dapat terserang oleh penyakit pada media hidupnya. Penyekit yang menyerang pakan alami dapat berpindah pada ikan yang kita budidayakan, setelah pakan alami dimakan oleh ikan; (b) Pengelolaan kualitas, kuantitas dan kuntinuitas pakan buatan jauh lebih mudah  dibandingkan pakan alami. Pakan buatan tidak memerlukan pemeliharaan, pakan buatan yang diproduksi oleh pabrik dapat dibeli ketika diperlukan sehingga pekerjaan pembudidayaan lebih ringan, waktu yang diperlukan lebih sedikit dan hemat tenaga kerja.

Pemilihan Pakan Ikan yang Tepat
Beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan pakan ikan yang tepat, antara lain berupa:
1.    Mutu pakan yang tinggi, dilihat dari:
-       Formula pakan ikan yang dipilih harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang dibudidayakan, dilihat dari kandungan nutrisi makanan yang menyangkut: protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.Kandungan gizi pakan terutama protein  harus sesuai dengan kebutuhan ikan.
-       Bahan formulasi pakan sesuai dengan jenis makanan dan panjangnya usus ikan yang dibudidayakan. Pemilihan jenis pakan yang sesuai dengan karakteristik jenis makanan dan panjangnya usus ikan akan meningkatkan ratio konversi makanan ikan menjadi daging ikan.
-       Tidak mengandung antibiotik dan zat racun.
-       Memperhatikan batas kadaluarsa pakan.
2.    Bentuk dan karakteristik pakan sesuai kebutuhan, dilihat dari:
-       Ukuran pakan dipilih sesuai dengan umur dan bukaan mulut ikan.
-       Memiliki  aroma yang disukai ikan yang dibudidayakan.
-       Kestabilan pakan dan ketahanan pakan dalam air sesuai dengan kebiasaan makan ikan.
3.    Secara ekonomis menguntungkan, dilihat dari:
-       Mudah diperoleh (kuntinuitas dan kemudahan transportasi).
-       Harganya relatif murah jika dibandingkan harga ikan yang dibudidayakan, dengan ratio harga pakan maksimal 70% dari harga ikan.

Teknis untuk Menjaga Kualitas Air terhadap Limbah Pakan
Beberapa langkah teknis yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air dalam budidaya ikan (di Karamba Jaring Apung) agar tidak terganggu oleh limbah pakan atau limbah lainnya, antara lain berupa:
1.   Optimalisasi pengelolaan pakan yang ramah terhadap kualitas air
-       Porsi makan ikan diberikan sesuai dengan daya tumbuh optimum perhari (Average Daily Growth) atau porsi makan hanya diberikan 80% dari daya kenyang, sehingga masih tersedia ruang dilambung untuk produksi enzym-enzym pencernaan. Diharapkan efisiensi pakan 100% terserap sempurna.
-       Frekuensi pakan sesuai dengan metabolisme ikan 2 x sehari, metabolisme ikan berkisar 8 jam, bila waktu pemberian pakan 7 pagi dan 5 sore. Maka ada rentang waktu 2 jam untuk istirahat organ-organ pencernaan, dengan tujuan organ pencernaan tetap sehat, ikan pun sehat.
-       Pakan difermentasi menggunakan probiotik untuk menghasilkan enzim: protease, amilase, lipase dan cellulose. Sistem ini meringankan kerja dari organ pencernaan 30%, dan membantu pemotongan rantai panjang pada protein dan lemak, serta membantu menghasilkan kotoran ikan yang mudah terurai dan ramah lingkungan.
2.   Optimalisasi pengelolaan wadah budidaya ikan yang ramah terhadap kualitas air
-       Penerapan Integrated Management Total Aquaculture yang dapat dilakukan dengan melakukan pemeliharaan multispesies dalam satu wadah (misalnya jaring bertingkat) sehingga buangan pakan pada jaring pertama (misal ikan omnivora) dapat dikonsumsi lagi terlebih dahulu oleh ikan pada jaring lapis kedua (misalnya herbivora), sehingga buangan sisa pakan ke dasar dapat diminimalisir.
-       Pengaturan lokasi ataupun jumlah petakan yang dapat dipelihara dengan memperhatikan daya dukung lingkungan perairan ataupun flushing rate waduk/danau tersebut sehingga tidak terjadi over populasi ikan yang dipelihara yang dapat meningkatkan limbah pakan ke dasar.
-       Pengaturan musim tanam, pengendalian jumlah KJA dan padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah seperti ikan patin, lele, dan betutu.
3.   Melakukan penebaran (stocking)  ikan herbivora secara lepas seperti ikan grass carp yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem danau/waduk sehingga blooming akibat eutrofikasi dapat dicegah sedini mungkin.
4.   Meningkatkan kadar oksigen terlarut di perairan. Menurut Lukman (2002), pasokan oksigen dalam pengelolaan KJA adalah untuk respirasi biota, pembusukan feses ikan dan pembusukan sisa pakan ikan. Menurutnya untuk setiap gram organik (limbah budidaya ikan) diperlukan 1,42 gram oksigen. Konsentrasi oksigen yang tersedia berpengaruh secara langsung pada kehidupan akuatik khususnya respirasi aerobik, pertumbuhan dan reproduksi. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut di perairan:
-       Mengurangi bahan-bahan organik dalam air, karena jika banyak terdapat bahan organik dalam air maka kadar oksigen terlarutnya rendah.
-       Diusahakan agar air tersebut mengalir.
-       Pembersihan sampah dan limbah yang ada di perairan, baik melalui pengelolaan fisik (pembersihan), pengelolaan kimiawi (penambahan bahan-bahan pengurai), dan pengelolaan biologi (penggunaan tanaman air, pro biotic, bakteri dan mikroba) yang dapat membantu pengelolaan kualitas air.

Perhitungan konversi dan efisiensi pakan
Beberapa alasan mengapa kita perlu melakukan perhitungan konversi dan efisiensi pakan adalah:
1.    Sebagai upaya dalam meningkatkan produktifitas budidaya ikan:
-       dapat mengetahui seberapa besar pengaruh pakan yang kita berikan terhadap pertumbuhan ikan yang kita pelihara.
-       dapat mengetahui besaran daya dukung perairan terkait buangan sisa pakan dan kotoran ikan.
-       dapat membantu dalam penentuan pemilihan jenis pakan yang baik untuk menghasilkan ikan yang sehat, tumbuh optimal dan berkualitas tinggi.
2.    Sebagai upaya dalam meningkatkan keuntungan usaha:
-       dapat menghitung biaya yang dikeluarkan dalam pembelian pakan selama proses pemeliharaan ikan, karena pakan merupakan faktor penting karena mewakili 40-75% dari biaya produksi dalam budidaya ikan.
-       dapat menghindari pemborosan dalam penggunaan pakan.
-       dapat mengoptimalkan penggunaan biaya produksi dengan menggunakan pakan yang baik dan jumlah pakan sesuai kebutuhan ikan.

Pakan menentukan keberhasilan budidaya ikan
Pakan merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya ikan, antara lain karena:
1.    Ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan pada ikan dalam sistem produksi, berupa: ikan yang sehat, tumbuh optimal dan berkualitas tinggi.
2.    Pakan merupakan faktor penting karena mewakili 40-75% dari biaya produksi dalam budidaya ikan.
3.    Pakan yang berkualitas baik merupakan faktor penting penentu keberhasilan budidaya ikan secara intensif seperti dalam sistem KJA. Salah satu cara untuk menekan biaya pakan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan adalah dengan penggunaan pakan secara efisien baik dalam pemilihan jenis, jumlah, jadwal dan cara pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan ikan.

E.    PENUTUP
Pengelolaan  pakan merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya ikan air tawar, karena ketersediaan pakan yang memadai secara kualitas dan kuantitas akan berpengaruh terhadap keberhasilan pada ikan dalam sistem produksi, berupa: ikan yang sehat, tumbuh optimal dan berkualitas tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, A. D. 2002. Pengaruh Penggantian Tepung Terigu dengan Tepung Singkong terhadap Efisiensi Pakan dan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Skripsi. IPB. Bogor. 43 hal.
Darmanto dkk, 2000. Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian - Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. di download dari http://defishery.files.wordpress.com/2009/11/budidaya-pakan-alami-untuk-benih-air-tawar.pdf.
Effendi I., dkk. 2012. Materi Pokok Budidaya Perikanan; 1- 9; MMPI5201/3sks Cetakan ketiga Edisi 1. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.               
Khairuman dan Amri, 2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. PT. Agro Media Pustaka, Depok.
Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 – 135.         
Mudjiman, A., 1996. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Syahputra, A., 2009. Rancang Bangun Alat Pembuat Pakan Ikan Mas dan Ikan Lele Bentuk Pelet. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Sumber : http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.com/2016/01/peran-pakan-dalam-keberhasilan-budidaya.html

Senin, 07 Januari 2019

Cara Menurunkan Biaya Beternak Lel

Cara Menurunkan Biaya Beternak Lele

Cara menurunkan biaya beternak lele adalah sebuah cara alternatif memaksimalkan hasil panen dengan cara mengurangi biaya beternak. Cara ini hampir sama dengan cara sebelumnya yaitu cara membuat pakan ikan lele organik. Cara yang dimaksud di dalam dokumentasi kali ini adalah sistem probiotik organik.

Seperti yang kita ketahui bahwa untuk beternak 1 kwintal lele dengan cara biasa minimal kita harus mengeluarkan biaya 1,5 juta mulai dari ukuran 5-6 cm sampai waktu panen. Tapi bila memakai sistem probiotik organik biaya pengeluaran pakan bisa di potong sampai 90 % (karena sebagian besar pakan berasal dari alam bukan pellet). PERCAYA APA TIDAK!!!

Sistem probiotik organik yang dimaksud adalah sebuah proses yang terdiri dari pembuatan starter bakteri, fermentasi kompos dan pembuatan maggot/belatung yang mengandung kadar protein lebih besar dari pellet olahan pabrik.

Pembuatan Starter Bakteri

Banyak macam caranya dan yang paling cepat prosesnya memerlukan 15 hari, dan berikut ini adalah salah satu cara yang sangat sederhana yaitu Pembuatan Starter Bakteri Pelepah Pisang

Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan
  1. Pelepah pisang busuk bagian pinggir sepanjang 40 cm (harus benar-benar busuk karena artinya ada banyak bakteri).
  2. Gula merah atau tetes murni (molase) 1/4 Kg
  3. Air leri (pususan beras) kental 4-5 liter.
Langkah-langkah pembuatan starter bakteri :
  1. Pelepah pisang dicacah sampai lembut.
  2. Gula dilarutkan dalam air leri
  3. Pelepah pisang dimasukkan kedalam larutan gula dan air leri, diremas-remas dan diperas supaya bakterinya terlepas kemudian diaduk merata.
  4. Setelah semuanya tercampur kemudian larutan disaring dan dimasukkan kedalam jerigen plastik.
  5. Setelah 3 hari dilihat, bila berbusa maka busa harus dibuang.
  6. Dibiarkan selama 5-7 hari.
  7. Tanda-tanda starter bakteri terbentuk adalah adanya bau seperti tape.
  8. Untuk memelihara bakteri tetap hidup maka larutan diberi gula dan dedak.

Pembuatan Fermentasi Kompos

Lima belas (15) hari sebelum menyebar bibit lele maka kita persiapkan terlebih dahulu kompos kotoran sapi atau kambing. Kemudian dimasukkan kedalam kolam setinggi 10 cm secara merata. Perlu diingat dan diketahui bahwa proses pembuatan fermentasi kompos ini harus terkena panas matahari langsung.

Buatlah campuran yang terdiri dari starter bakteri pelepah pisang dan air dengan perbandingan 1:1 (5liter : 5liter) kedalam sebuah wadah. Aduk secara merata kemudian masukkan kedalam kolam yang sudah ditebari   kompos kotoran sapi atau kambing sebelumnya. Diamkan selama kurang lebih 3 hari kemudian aduk secara merata.

Lakukan cara tersebut diatas secara berulang selama dua kali, Setelah 7 hari, isi kolam dengan ketinggian air sekitar 20-30 cm kemudian biarkan selama 3-4 hari. Setelah itu isi air dengan ketinggian maksimal, endapkan minimal sehari semalam kemudian bibit Lele siap ditebar.

Pembuatan Maggot/Belatung

Untuk pembuatan maggot anda harus memerlukan media kompos, kalau bisa kompos burung puyuh yang sudah kering 1 sak dan gerajen/serbuk kayu jati 1 sak untuk 4000 ekor bibit dan nanti bisa digunakan sampai panen lebih. Kompos burung puyuh tadi ente taruh diatas sak atau plastik lalu ente fermentasi sama starter bakteri yang sudah ente buat tadi, caranya sama seperti diatas itu setelah itu campur media kompos tadi sama gergajen/serbuk kayu jati dan aduk merata, kalau sudah merata taruh ditempat yang teduh alias gak terkena panas matahari dan jangan usahakan media tadi kondisinya lembab terus, caranya pagi sore media tadi disiram tipis, tunggu beberapa hari maggot/belatungnya akan keluar dan siap untuk pakan lele.

Rincian untuk bibit lele 4000 ekor
Nama Media Jumlah Harga Keterangan
Kompos sapi/kambing 1 rit 150.000 Habis panen media di dasar kolam sudah habis
Starter Bakteri 1 galon Gratis Hanya cukup untuk fermentasi kompos dasar kolam & kompos burung puyuh
Kotoran burung puyuh 1 sak Gratis Bisa digunakan dari mulai tebar bibit sampai panen atau lebih
Serbuk kayu jati 1 sak Gratis -

Untuk budidaya berskala besar sebaiknya pemrosesan media-media tadi dilakukan jauh-jauh hari.
Kalau ada pertanyaan kenapa harus fermentasi, maka jawabannya adalah karena dengan fermentasi maka kandungan N-organik dan C-organik bakal naik sampai 2 kali lipat dan mematikan bakteri jahat pantogen.


Sumber :  https://i-ternak.blogspot.com/2013/01/cara-menurunkan-biaya-beternak-lele.html

Cara Beternak Ikan Gurame

Cara Beternak Ikan Gurame

Cara Beternak Ikan Gurame di kolam semen dan terpal, Jika anda memiliki hobi beternak ikan, maka sudah saatnya anda melakukan sebuah usaha yang sangat terkait dengan hobi anda tersebut serta menghasilkan materi.

Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai Cara Beternak Ikan Gurame. Menurut kami bahwa peluang usaha yang tidak pernah ada habisnya adalah beternak ikan. Karena hampir setiap hari masyarakat membutuhkan ikan untuk di konsumsi. Sedangkan pasokan ikan yang ada tidak akan pernah mencukupi kebutuhan tersebut.

Cara Beternak Ikan Gurame

Beternak ikan gurame adalah sebuah peluang usaha yang sangat menjanjikan karena banyak masyarakat Indonesia sangat menggemari ikan satu ini. Apalagi sekarang banyak bermunculan warung-warung besar yang menjual sajian  gurame bakar dan berbagai sajian ikan gurame lainnya. Pasar seperti inilah yang membuat ikaan gurame menjadi primadona dalam beternak ikan.

Ikan Gurame Bakar

Harga ikan gurame relative lebih mahal dari ikan lainnya sehingga banyak peternak yang memilih beternak ikan jenis ini.  Cara beternak ikan gurame dapat dilakukan dengan modal kecil sampai besar sehingga terbuka untuk siapa saja.

Bagi anda yang tak memiliki lahan yang cukup anda bisa membudidayakan ikan gurame dengan menggunakan kolam dari terpal. Ikan gurame pada dasarnya membutuhkan air yang cukup. Dengan membuat kolam dari terpal anda bisa membuatnya walaupun di lahan yang sempit. Asalkan anda sabar merawatnmya maka ikan gurame tetap tumbuh dengan baik.

Anda bisa membuat kolam ikan gurame dengan terpal secara fleksibel sesuai dengan lahan yang ada dan di mana saja. Misalnya di pekarangan rumah, di sawah, dan lain-lain. Jika kolam terpal buatan anda ukurannya tidak terlalu besar tentu saja tidak bisa menampung ikan gurame dalam jumlah yang besar. Jika dipaksakan tentu akan banyak mengalami kematian. Jadi jumlah ikan harus di sesuaikan dengan ukuran kolam. Untuk ukuran kolam 1m2 dengan kedalaman 90 cm kira-kira bisa diisi dengan 10 ekor guramih dengan berat 2.5 ons.

Jika ikan gurame sudah semakin besar maka jumlahnya harus di kurangi, jika tidak maka perlu penambahan filter air yang memadai, dengan cara mengalirkan air kolam terpal dengan pompa ke suatu sistem filter dan setelah melalui filter air masuk kembali ke kolam.

Cara Beternak Ikan Gurame Di Kolam

1. Pemilihan telur
Untuk bisa menghasilkan telur gurame yang baik maka pertama kali yang harus dilakukan adalah seleksi induk dengan ciri-ciri induk sebagai berikut :

a. Induk jantan

  • Dahi agak menonjol menyerupai cula
  • Dasar sirip dada terang keputihan
  • Dagu berwarna kuning dan agak menonjol
  • Jika diletakan ditempat datar ekornya naik ke atas
  • Jika ditekan perlahan kelaminnya mengeluarkan sperma
  • Sangat baik untuk dijadikan induk berumur antara 3 - 7 tahun

b. Induk betina

  • Dahi rata
  • Dasar sirip dada gelap kehitaman
  • Dagu kurang menonjol
  • Ujung sirip ekor bundar
  • Sangat baik dijadikan induk antara 2,5 - 6 tahun

Berbeda dengan jenis ikan lainnya bahwa telur gurame sudah dapat di jual dengan harga Rp 40-50/butirnya. Dan biasanya dalam 1 induk gurame berukuran 2.5kg sd 3.5kg mampu menghasilkan 2000 sd 5000 butir telur gurame.

2. Produksi hasil pendederan
Untuk ukuran hasil pendederan ikan gurame terbagi menjadi beberapa jenis yaitu

a.Ukuran 2-3 cm umur 40 sd 50 hari dari telur dengan harga jual Rp 300-Rp 400/ ekor
b.Ukuran 4-5 cm umur 50 sd 60 hari dari ukuran 2-3 cm dengan harga jual Rp 800-Rp1000/ ekor
c.Ukuran 6-7 cm Umur 50 sd 60 hari dari ukuran 4-5 cm dengan harga jual Rp 1700–Rp 2000/ekor.
d.Ukuran 7-9 cm Umur 50 sd 60 hari dari ukuran 6-7 cm dengan harga jual Rp 2500-Rp3000/ekor

Untuk fase produksi hasil pendederan tidak ada ketentuan khusus dalam masa pemanenan sehingga pada saat konsumen membutuhkan ukuran sesuai dengan keinginan, walaupun belum berusia diatas 50 hari masa pemeliharaan, peternak dapat menjualnya.

3. Produksi hasil pembesaran
Tebar benih gurame masa pembesaran biasanya dilakukan pada ukuran 2ons s/d 3ons dengan jangka waktu antara 3 s/d 4 bulan masa panen. Ukuran masa panen pembesaran ikan gurame dalam jangka waktu tersebut biasanya menghasilkan ukuran sekitar 5 ons s/d 1 Kg.

Dengan membagi proses beternak ikan gurame kedalam 3 proses yaitu pembenihan, pendederan dan pembesaran maka beternak ikan gurame tidak akan dirasa lama.

Jika kita lihat, ikan gurame adalah jenis ikan yang masa pertumbuhannya relatif lamban dibanding jenis ikan lain seperti ikan mas, nila dsb. Tetapi jika kita amati perbedaan masa pertumbuhan itu tidaklah mencolok, kalau kita ambil contoh budidaya ikan nila dari ukuran 2-3 cm sampai mencapai rata-rata 7ons sebenarnya kalau dihitung waktu pasti tidak cukup 6-7 bulan, yang membedakan lamanya waktu pemanenan tersebut yang paling menonjol adalah ukuran masa konsumsinya, dalam arti ikan nila bisa di konsumsi dengan besaran ukuran 2-5 ons sedangkan untuk gurame dikonsumsi dengan besaran ukuran minimal 5 ons sd 1kg.

PENDEDERAN IKAN GURAME DI KOLAM PLASTIK
Ikan gurame termasuk ikan labirin, yakni dapat hidup dalam air yang kekurangan oksigen, karena ikan gurame dapat menghisap oksigen dari udara babas. Dengan kondisi tersebut, petani dapat melakukan usaha pembenihan pendederan ikan gurame, meskipun tidak mempunyai air yang mengalir.

Ikan gurame termasuk ikan yang tidak banyak gerak, sehingga dengan area yang relatif sempitpun dapat ditanami ikan dalam jumlah banyak. Hal ini dapat menghemat lahan dan memberikan peluang kepada petani yang mempunyai lahan sempit untuk mempunyai kolam pendederan gurame sebagai sumber pendapatan keluarga. Selain itu, ikan gurame bernilai ekonomis tinggi dibandingkan dengan jenis ikan lainnya benih maupun konsumsi.

Kolam plastik Pada Cara Beternak Ikan Gurame
Tasikmalaya memang sudah sejak lama dikenal sebagai sentra budidaya perikanan air tawar termasuk ikan gurami baik di tingkat provinsi maupun nasional, juga sampai ke luar negeri. Dan banyak petani ikan asal luar negeri yang berguru perikanan air tawar ke Tasikmalaya. Meskipun demikian, tidak semua wilayah di Kab. Tasikmalaya dapat melakukan kegiatan budidaya ikan air tawar, karena ketersediaan air yang kurang. Karena ketersediaan air yang minim, maka pendederan ikan gurame pada kolam plastik menjadi salah satu jawaban yang tepat bagi sub sektor perikanan.

Dengan kolam plastik, lahan sempit dan air yang kurang, bukan suatu masalah lagi. Karena kolam plastik ini " adalah usaha budidaya yang hemat lahan dan air, serta untungnya besar Dalam budidaya ikan, orang lebih mengenal tambak, karamba, jaring apung, kolam air tenang dan kolam air deras. Selain itu, adalagi kolam batu dan kolam plastik.

Kolam batu ada di daerah Kec. Cikatomas Kab. Tasikmalaya, yaitu kolam yang dibuat pada lahan cadas. Kolam batu dianalogkan dengan sawah, yakni kolam tadah hujan, karena mengandalkan air hujan sebagai sumber airnya. Kolam batu tersebut berfungsi sebagai bak penampungan air untuk sumber air di musim kemarau dan sebagai kolam tetenong.

Kolam plastik sebenarnya bukan istilah baru dan sudah digunakan meski terbatas di lingkungan lembaga. perikanan. Namun di Kab. Tasikmalaya, kolam plastik tersebut berkembang pesat baru-baru ini di Kec. Cineama dan Kec. Manonjaya.

Sampai saat ini, sudah lebih dari 600 buah kolam plastik yang dibangun petani ikan di dua wilayah kecamatan tersebut. Kolam plastik bukanlah kolam khusus yang terbuat dari plastik tetapi tetap terbuat dari tanah. Namun, karena tanah di daerah tersebut adalah tanah yang porus/sarang (tidak dapat menahan air) dan airnya bukanlah air yang mengalir, maka air di kolam tersebut tidak cepat habis, dasar kolam dan pinggir kolam dilapisi plastik.

Luas kolam plastik kecil, rata-rata 14 meter persegi dengan kedalaman air antara 10-60 cm. Kecuali untuk kolam pendederan I dan pendederan II, luasnya cukup 2 meter persegi dengan kedalaman air 10 cm. Begitu pula untuk ukuran kaset, luasnya bisa 2-3 kali luas dibandingkan dengan kolam untuk ukuran benih yang lebih kecil dari ukuran kaset dan kedalamannya bisa sampai I meter. Ukuran panjang atau lebar kolam disesuaikan dengan keadaan lahan.

Analisa Usaha Beternak Ikan Gurame
Khusus di kalangan petani ikan di Kab. Tasikmalaya dikenal sebagai istilah untuk ukuran benih ikan, mulai dari lepas baskom (lempung), biji ketimun, biji labu, kuku, paneker, silet, kotak, korek, garfit sampai kaset. Benih ikan mulai dari lempung sampai sebesar kaset membutuhkan waktu sekitar 8 bulan atau 8 periode pendederan. Sedangkan pendederan untuk masing-masing periode pendederan berkisar antara 17-30 hari.

Pendederan I menghasilkan benih ukuran biji mentimun lama pendederan 17-20 hari, pendederan II (biji labu) selama 17-20 hari, pendederan III (ukuran kuku) selama 30 hari, pendederan I (paneker) selama 30 hari, pendederan A (silet) 30 hari, pendederan (korek) 30 hari, pendederan VII (korek) 30 hari dan pendederan VIII (kaset) selama 30-45 hari. Namun dari berbagai periode pendederan, yang dinilai paling menguntungkan adalah pendederan I dan 11.

Analisa usaha budidaya pendederan I lepas baskom (1 -3 cm) pada kolam 2 meter persegi yakni, pembuatan kolam bayar upah I orang pekerja untuk I hari Rp. 20.000
beli plastik 2 meter @ Rp. 7.000 (Rp. 14.000) dan spin Rp. 7.000. jumlahnya Rp. 41.000.
Beli benih 4.000 ekor kali Rp. 5 menghasilkan Rp. 20.000
Biaya lain-lain Rp. 50.000.
Sehingga totalnya Rp. 131.500.
Kemudian hasil produksi sebesar biji mentimun jumlah ikannya 3.000 ekor x Rp. 125/ekor menjadi Rp.375.000 – Rp.131.000 = Rp.243.500 (keuntungannya).

Sumber : https://i-ternak.blogspot.com/2013/01/cara-beternak-ikan-gurame.htm

Minggu, 06 Januari 2019

7 Ciri Bibit Ikan Lele Berkualitas Baik dan Unggul

7 Ciri Bibit Ikan Lele Berkualitas Baik dan Unggul

Bibit merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan budidaya ikan lele. Pasalnya, risiko kerugian yang Anda terima bergantung pada kualitas bibit yang dipilih.
Amati secara detil bagaimana performa ikan lele sebelum Anda memutuskan untuk membelinya.

Saat ini banyak sekali penjual bibit ikan lele. Mulai dari ikan lele lokal, lele dumbo, sangkuriang sampai phyton. Namun, tidak semua bibit yang dijual memiliki kualitas bagus. Cara paling sederhana adalah melihat pergerakan bibit ikan lele.
Kalau gerakannya hanya maju mundur cantik saja, jangan dipilih ya. Sudah pasti bibit ikan lele tersebut kurang baik jika dipelihara. Apalagi kalau kulitnya lecet, lebih baik Anda membelinya untuk dimakan saja daripada dipelihara.
Ada 7 ciri yang Wajib anda tahu. Anda bisa memilih membaca salah satu ciri berikut atau (sebaiknya) membaca semuanya.
1. Bibit Berasal Dari Budidaya Benih Ikan Lele
2. Gerakannya Lincah
3. Fisik Harus Sempurna
4. Ukuran Bibit Harus Seragam
5. Bibit Dalam Kondisi Sehat
6. Perhatikan Riwayat Induknya
7. Punya Sertifikat CPIBs

Bibit Ikan Lele yang Berkualitas

Supaya Anda tidak salah memilih bibit, sebaiknya memperhatikan beberapa kriteria. Kriteria tersebut diantaranya mencakup, asal bibit, gerakan, fisik, kesehatan, riwayat indukan dan lain-lain. Berikut ulasannya. Cekidot!

1. Bibit Berasal Dari Budidaya Benih Ikan Lele
peternakanikan.blogspot.com
peternakanikan.blogspot.com
Kriteria pertama yakni bibit harus berasal dari hasil budidaya benih ikan lele. Pasalnya, bibit tersebut biasanya jauh lebih terjaga kualitasnya karena mengalami proses pemeliharaan intensif selama budidaya.
Selain itu, bibit dari budidaya benih ikan lele cenderung berasal dari indukan terbaik. Artinya, Anda tidak meragukan kualitas keturunannya. Pembudidayanya pun sudah mengetahui dengan baik bagaimana cara membesarkan benih agar tetap terjamin kualtiasnya hingga menjadi ikan lele siap jual.

2. Gerakannya Lincah
bibitikan.com
bibitikan.com
Pernah melihat bibit ikan lele yang gerakannya lamban dan hanya di satu tempat saja? Itulah bibit ikan lele yang jelek. Anda akan sangat mudah menangkap bibit ikan lele ini.
Sebaliknya, jika Anda sulit menangkap bibit ikan lele dengan tangan karena gerakannya gesit, berarti bibit tersebut sangat bagus. Perhatikan gerakan bibit ikan lele lainnya, caranya masukan bibit ikan lele dalam sebuah wadah.
Lalu, miringkan wadah berisi bibit ikan lele. Lihatlah pergerakannya. Jika sebagian besar bibit ikan lele bergerak melawan arus, maka bibit tersebut memang bagus. Namun, apabila bibit ikan lele terbawa arus, artinya bibit tersebut kurang baik.
Cara ini ampuh sekali untuk mengetes seberapa gesit bibit ikan lele yang akan dibeli. Semakin lincah gerakannya maka semakin baik bibitnya.

3. Fisik Harus Sempurna
bibitikan.com
bibitikan.com
Asal bibit dari budidaya benih ikan lele dan gerakan bibit yang lincah tidak selamanya menjamin kesempurnaan bibit ikan lele. Kalau bibit ikan lele yang Anda lihat terdapat lecet di tubuhnya, sebaiknya tidak dipilih.
Upayakan memilih bibit ikan lele yang badannya mulus dan sewarna. Warna bibit ikan lele yang baik yakni berwarna cokelat tua atau hitam kemerahan. Morfologi tubuhnya seimbang, dari kepala dan badan. Kulitnya pun cerah dan mengkilap.
Bibit ikan lele yang bagus tidak pucat dan tidak menggerombol di pojok kolam. Justru ia bergerak lincah ke sana kemari. Jika Anda menemukan salah satu bibit ikan lele yang tubuhnya tidak sempurna, sebaiknya pisahkan.
Kesempurnaan fisik bibit ikan lele akan menentukan bentuk fisiknya setelah menjadi ikan lele siap jual. Konsumen pun akan jeli memilih mana ikan lele yang bagus dan mana yang tidak. Hal tersebut harus Anda perhatikan karena turut menentukan untung rugi dalam budidaya.

4. Ukuran Bibit Harus Seragam
lelepamulang.wordpress.com
lelepamulang.wordpress.com
Layaknya ikan lainnya, dalam memilih bibit ikan lele, Anda harus memilih yang seragam. Artinya, seragam ukuran bibitnya. Mengapa demikian? Karena jika Anda memilih bibit ikan lele yang tidak seragam, risiko terjadi kanibal sangat tinggi.
Ikan lele yang lebih besar biasanya suka memangsa ikan lele yang lebih kecil. Kalau itu sampai terjadi, jumlah ikan lele yang dibudidayakan akan semakin berkurang. Akibatnya, Anda pun mengalami kerugian.
Selain itu, ukuran bibit ikan lele juga akan mempengaruhi pertumbuhannya. Apabila awalnya bibit ikan lele tidak seragam, maka ketika besar pun ukurannya tidak akan sama. Bahkan Anda akan mengalami gagal panen karena ikan lele sudah habis duluan akibat sifat kanibalnya.
Misalnya begini, Anda akan membeli 500 bibit ikan lele. Ketika memilih di lokasi budidaya, ingin memilih bibit ikan lele berukuran tubuh 5 cm. Nah, berarti Anda harus memilih semua ukurannya 5 cm atau toleransinya ukuran 4 sampai 6 cm.
Tapi, dengan catatan, bibit ikan lele yang ukurannya 4-6 cm tidak lebih dari 10% populasi bibit. Sejumlah 90% bibit ikan lele harus berukuran 5 cm. Memang sulit karena tidak banyak bibit ikan lele yang berukuran sama persis.
Solusinya, Anda harus mengelompokan 500 bibit ikan lele tersebut berdasarkan ukuran. Contohnya, dari 500 bibit ikan lele, 400 bibit berukuran sama 5 cm. Sementara 100 bibit ukurannya 8 cm.
Sebaiknya, Anda pisahkan bibit ikan lele berdasarkan ukurannya. Lebih baik menambah jumlah kolam daripada Anda menderita kerugian yang berlipat ganda.

5. Bibit Dalam Kondisi Sehat
jualbibitlele.com
jualbibitlele.com
Sebelum membeli bibit ikan lele, tanyakan dulu kepada pembudidaya tentang riwayat kesehatan bibit. Tanyakan, apakah bibit ikan lele pernah sakit. Tujuannya, supaya jika bibit ikan lele ini mengalami sakit yang sama, Anda akan mudah menanganinya.
Bibit ikan lele yang sehat memiliki ciri-ciri, gerakannya gesit, tubuh proporsional, warna kulit mengkilap, tidak menggantung, bebas cacat atau luka dan sungut berwarna cerah. Namun, ketika bibit ikan lele pernah sakit, tanyakan bagaimana kronologisnya.
Kalau memang harus menggunakan antibiotik atau obat-obatan lain, upayakan dosisnya tidak terlalu tinggi. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan bakteri dan penyakti bertambah kebal sehingga akan berkembang cepat di tubuh ikan lele.

6. Perhatikan Riwayat Induknya
irwanrachmadin.blog.com
irwanrachmadin.blog.com
Indukan selalu menjadi faktor yang berpengaruh dalam pemilihan bibit hewan jenis apapun. Kalau bibit ikan lele berasal dari indukan yang unggul, maka sudah pasti anakannya pun mewarisi sifat genetik induknya.
Pilihlah bibit ikan lele yang asalnya bukan dari perkawinan inbreeding atau tingkat kekerabatan yang tinggi. Semakin jauh tingkat kekerabatannya, maka akan semakin bagus kualitas bibitnya.
Kemudian, perhatikan jenis ikan lele indukannya. Misalnya, ikan lele jenis Sangkuriang sudah pasti lebih bagus dari ikan lele lokal karena dilihat dari riwayat pemijahannya. Dan hasil panennya pun pasti jauh lebih sempurna dibandingkan ikan lele lokal.

7. Punya Sertifikat CPIB
pusdakan-dki.com
pusdakan-dki.com
Kriteria terakhir yakni, harus punya kriteria CPIB. Apa itu CPIB ? CPIB adalah Cara Pembenihan Ikan yang Baik. Jika memang kualitas bibit yang Anda beli tersebut baik, pembudidaya pasti mengantongi sertifikat CPIB.
Dari sertifikat tersebut Anda akan tahu, darimana asal indukannya dan jenis apa yang digunakan. Namun, tidak semua pembudidaya punya sertifikat CPIB. Jadi, tidak bisa dijadikan patokan. Kriteria sebelumnya sebenarnya sudah cukup untuk bisa menjamin kualitas bibit yang Anda beli.
Itulah sekelumit kriteria yang dapat Anda jadikan pedoman dalam pemilihan bibit ikan lele berkualitas. Selain bibit harus baik, Anda juga harus mempersiapkan lahan budidaya dan pola pemeliharaan yang matang. Semoga bermanfaat.


Sumber :

Jumat, 04 Januari 2019

Paduan Pakan Ikan Lele Lengkap Dengan Cara Pemberiannya

Paduan Pakan Ikan Lele Lengkap Dengan Cara Pemberiannya

Keberhasilan budidaya ikan lele tidak terlepas dari manajemen pakan. Hal ini meliputi jenis pakan yang diberikan dan cara pemberian pakan. Berbagai merek pakan yang dijual di pasaran tidak menjamin kualitasnya selalu bagus.
Kamu harus perhatikan Food Ratio Convertion (FCR) pada kemasan pakan. Yang dimaksud FCR yakni perbandingan jumlah pakan dan pertumbuhan daging. FCR pakan yang baik biasanya kurang dari satu. Jadi, makin kecil FCR, maka makin bagus kualitasnya.
Pakan ikan Lele
Supaya tidak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak tapi hasil panen tetap baik, terapkan dua jenis pakan untuk lele. yaitu :
  • Pakan utama : Pelet
  • Pakan tambahan (alternatif) agar lebih hemat dan hasil lebih bagus

Syarat Pakan Lele
Ikan lele merupakan salah satu hewan air pemakan segala atau omnivora. Ia bisa makan apa saja, baik dari tumbuhan maupun daging. Namun, kamu harus perhatikan kandungan gizi pada pakannya. Pakan utama untuk lele biasanya berupa pelet.
  • Kandungan gizi minimal yang wajib ada dalam pakan utama, yakni minimal 30% protein, 4-16% lemak dan 15-20% karbohidrat. Sisanya adalah mineral dan vitamin. Tidak semua kandungan gizi pada pakan pelet itu sama. Cerdaslah dalam memilih agar tidak terkecoh, terutama perhatikan tanggal kadaluarsanya.
  • Aturan pemberian pakan utama sekitar 3-6% dari bobot tubuh ikan lele. Sebagai contoh, bila bobotnya 60 gram, maka pakan yang diberikan sebesar 3,6 gram per-ekor. Ketika menjelang panen, kira-kira 2 minggu, kurangi pemberian pakannya, sekitar 3% dari bobot ikan lele.
Syarat Pakan lele
caramembuatmu.com

Pakan Utama Ikan Lele

Lalu, pakan utama seperti apa yang bisa diberikan? Tentu saja pakan berbentuk pelet. Pelet merupakan pakan yang dibuat oleh pabrik khusus. Komposisi dalam pelet sudah disesuaikan dengan kebutuhan ikan lele.
Campuran bahan dalam pelet biasanya dari aneka tepung, bungkil kedelai, bungkil kelapa, mineral, dedak, minyak dan macam-macam vitamin lainnya. Semuanya sudah ada takarannya, jadi kamu tidak perlu khawatir.
Pelet dibagi menjadi dua jenis, yakni pelet apung dan tenggelam. Meskipun sifatnya berbeda, tapi ikan lele sangat menyukainya. Kamu tinggal mengatur bagaimana penggunaannya.
Namun, kamu juga mesti hati-hati dan selektif dalam memilih jenis pelet. Ketahui dahulu nama perusahaan yang memproduksinya, perhatikan komposisinya dan tanggal kadaluarsanya. Utamakan kandungan proteinnya. Pilih yang kandungannya cukup tinggi.
indonetwork.co.id
indonetwork.co.id
Di antara dua jenis pelet tersebut, pelet apung mengandung protein yang lebih tinggi daripada pelet tenggelam. Itulah sebabnya, kebanyakan pembudidaya ikan lele memberikan pelet tenggelam saat menjelang panen.
Pakan Tambahan Perlu Diberikan
kabaredemak.com
kabaredemak.com

Pakan Tambahan / Alternatif untuk Ikan Lele

Kenapa sih harus memberikan pakan tambahan? Tujuannya supaya kamu lebih berhemat dalam mengeluarkan biaya pakan. Pasalnya, pakan tambahan tidak harus membeli di toko pakan. Kamu bisa mendapatkannya dari lingkungan sekitar.
1. Belatung
Ya, hewan kecil bernama belatung ternyata memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga bagus dikonsumsi ikan lele.
Asal belatung dari hewan lalat. Paling bagus dijadikan pakan adalah belatung yang diproduksi lalat black soldier fly.Kandungan protein lalat ini mencapai 40% sesuai dengan hasil penelitian BBPBAT.
Untuk mendapatkan belatung, kamu harus menyiapkan beberapa peralatan. Peralatan tersebut yakni, ember, daun pisang, ampas tahu, sisa ikan asing dan sedikit kotoran ayam.
Teman kita dari Sekolah Tinggi Perikanan di Bogor menceritakan tentang cara budidaya magot ini.
Caranya, campurkan semua bahan tersebut dalam ember berisi air bersih dan aduk-aduk sampai rata. Tutuplah memakai daun pisan kering agar lalat mau bertelur di ember.
Kemudian, simpan ember tersebut di dalam tempat yang aman dari hujan dan panas. Biarkan sampai 3 minggu. Nanti setelah 3 minggu, kamu akan melihat adanya belatung dalam ember.
Untuk mendapatkan 60 kg belatung, kamu membutuhkan bahan baku sekitar 100 kg. Namun, jangan terlalu lama menyimpan belatung agar tidak menjadi lalat.
2. Sisa Peternakan Ayam : Ayam Tiren dan Kotoran Ayam
Pakan tambahan lainnya yang sangat mudah dicari yakni limbah peternakan unggas. Beberapa pembudidaya ikan lele ada yang membangun kolamnya di bawah kandang ayam.
Kotoran ayam nantinya dapat dijadikan sebagai pakan ikan lele. Selain itu, bangkai ayam atau unggas juga dapat dimanfaatkan menjadi pakan tambahan.Cara membuat pakan lele dari ayam tiren.
Tapi, khusus untuk pemberian pakan berupa bangkai, ada aturan yang harus kamu patuhi agar lele tidak mudah terserang penyakit. Rebuslah terlebih dahulu bangkai yang akan kamu berikan pada ikan lele. Buang juga bulu-bulunya sampai bersih supaya segala macam penyakit yang menempel hilang.
Sebelum diberikan pada ikan lele, diamkan sejenak sampai dingin. Jika sudah dingin, berikan pada ikan lele di hari yang sama dengan proses perebusan.
Saran pemberian yakni dengan cara menggantung bangkai memakai tali dan mencelupkan ke dalam kolam. Tulang yang tersisa harus dibuang agar tidak menyampah di dalam kolam
3. Ikan Rucah
Ikan rucah juga bisa kamu berikan pada ikan lele. Ikan rucah merupakan ikan afkir yang berukuran kecil dan tidak bisa dikonsumsi manusia.
Biasanya harga ikan rucah terbilang murah. Dalam pemberiannya, cukup dicincang dan langsung diberikan pada ikan lele, asalkan tidak ada durinya.
4. Keong Mas (Bekicot)
Pakan tambahan berupa keong emas atau bekicot tidak kalah kualitasnya. Daging keong emas bisa digunakan sebagai pakan ikan lele. Kamu dapat menemukan keong emas di kawasan persawahan.Pakan lele bekicot
gambar : wongtani.wordpress.comKeong emas ini mengandung protein yang cukup tinggi. Namun, untuk dapat diberikan pada ikan lele, keong emas harus diolah terlebih dahulu. Caranya, pisahkan daging dengan cangkang keong emas, kemudian cincang dagingnya. Selanjutnya, rebus daging keong emas.Setelah direbus dan didinginkan sejenak, langsung berikan pada ikan lele. Upayakan jumlah dan waktu pemberiannya tepat karena jika terlambat atau kurang, ikan lele akan memakan sesamanya. Akibatnya, jumlah panenan ikan lele akan berkurang.

Bagaimana Aturan Pemberian Pakannya?
budidayaperawatan.blogspot.com
budidayaperawatan.blogspot.com
Memelihara ikan lele tidak semudah membalikan telapak tangan alias perlu keahlian khusus. Begitu juga hal yang terkait dengan pemberian pakan.
  • Pakan diberikan secara adlibitum atau ketika pakan habis selalu ditambahkan lagi. Kurang lebihnya 4-5 kali dalam sehari. Jika ikan lele masih kecil, kamu harus sering memberikan pakan. Waktu pemberian pakan yakni, pagi, siang, sore dan malam hari.
  • Paling baik memberikan pakan pada sore dan malam karena ikan lele merupakan hewan nokturnal atau hewan yang aktif pada malam hari. Perhatikan baik-baik saat pemberian pakan. Kalau kelihatannya ikan sudah tidak bernafsu menyantap makanan, hentikan pemberiannya.
  • Anda tidak boleh terlambat dalam memberikan pakan. Kedua, untuk memberikan pakan utama, berikan terlebih dahulu pakan apung. Caranya, semprotkan air sedikit saja ke dalam pakan yang akan kamu berikan. Aduk merata dan diamkan selama 20 menit.
  • Setelah 20 menit, terbarkan pakan secara bertahap di kolam ikan lele. Jangan tebarkan sekaligus karena kamu tidak akan bisa melihat seberapa doyan ikan lele terhadap pakan. Hentikan pemberian pakannya jika ikan sudah nampak kenyang.
  • Menjelang panen, berikan pakan utama yang tenggelam. Cara pemberiannya, tidak perlu disemprotkan air seperti halnya pakan apung. Cukup tebarkan pakan langsung pada satu titik hingga ikan terlihat sudah tidak berselera makan.
Sumber :

Untung Besar dari Bisnis Budidaya Lobster Air Tawar

  Memiliki warna biru yang cerah disertai bentuk tubuh yang terlihat kekar dan anggun menjadikan lobster air tawar menarik dijadikan hiasan ...