Selasa, 26 Mei 2020

Bagaimana Cara Budidaya Ikan Hias

Budidaya ikan hias termasuk hobi yang menyenangkan. Setiap orang memiliki hoby masing-masing. Seperti salah satu berikut ini saya akan membahas tentang ikan hias.
Bagi yang hobi ikan hias, biasanya mereka bisa berjam-jam duduk di depan akuarium hanya untuk memperhatikan keindahan, keelokan warna serta goyang lenggak-lenggok si ikan hias.
Salah satu yang menjadikan alasan, mengapa ikan hias bisa menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan? Jawabannya adalah karena usaha budidaya ikan hias tidak membutuhkan lahan yang luas, tidak harus dimulai dengan modal yang besar, dan yang terpenting adalah dapat dilakukan oleh siapa saja.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, kita dapat melakukannya dengan menjaga kualitas. Dan selanjutnya kita tingkatkan kuantitasnya. Dalam menjaga dan meningkatkan kualitas serta kuantitas tidak lepas dari cara budidaya yang dilakukan.
9 cara budidaya ikan hias, seperti dikutip dari kampoengilmu, yakni:
1. Wadah Pemeliharaan Ikan Hias
Untuk wadah pemeliharaan umumnya menggunakan akuarium, kolam bak dari semen, kolam bak dai terpal, bak fiber glass atau wadah lain yang tidak bocor dan dengan ukuran yang beragam. Karena itu kita dapat memanfaatkan barang-barang bekas yang tidak bocor dan dengan ukuran yang beragam pula.
Wadah pemeliharaan ikan ada yang sistem airnya mengalir dan ada yang tidak atau hanya tergenang. Wadah pemeliharaan bisa digunakan dengan fungsi yang berbeda, seperti wadah untuk perawatan induk ikan, tempat pemijahan, tempat penetasan telur, tempat pendederaan, tempat pembesaran serta untuk tempat penampungan hasil.
Sesuaikan wadah sesuai jenis ikan yang dibudidayakan. Seperti besarnya wadah dan juga untuk beberapa jenis sebaiknya anda beri sket untuk memisahkan mereka. Ini dilakukan agar ikan tidak melukai yang lainnya.
2. Penyesuaian Wadah Untuk Ikan Hias
Ikan hias yang satu dengan yang lainnya memiliki lingkungan hidup yang berbeda. Lingkungan hidup yang paling berpengaruh adalah air, suhu, derjat keasaman (PH), kandungan oksigen dan juga kecerahan.
Sediakan air dengan kandungan kimiawi zero atau paling tidak minimal. Untuk suhu air sebaiknya berkisar antara 24-30 C. keasaman air (PH) kurang lebih 6-7, oksigen terlarutnya > 3 ppm dan kecerahan air berkisar 30-60 cm.
Sumber air bisa kita dapatkan juga dari berbagai sumber, seperti berasal dari air tanah, air sungai dan air PAM. Air yang akan digunakan harus didiamkan terlebih dahulu dan diendapkan selama 12-24 jam sebelum dipakai. Ini bertujuan agar kandungan oksigen terlarutnya cukup dan gas-gas yang ada di dalam air hilang. Dan untuk menyesuaikan PH dapat dilakukan dengan memberikan kapur pertanian atau kapur bordo dengan dosis secukupnya bila terlalu asam atau basa.
Air yang digunakan akan mengalami penurunan kualitas. Seperti air menjadi kotor akibat sisa pakan dan kotoran ikan. Oleh karena itu di butuhkan pembersih air (penyiponan). Caranya dengan membuka pipa pembuangan atau menyedotnya. Air yang dibuang maksimal ¾ bagiannya. Setelah itu diisi kembali dengan air yang sudah diendapkan sebelumnya.
3. Pakan Ikan Hias
Pakan untuk ikan hias biasanya pakan alami dan pakan buatan. Jenis pakan alami yang biasa diberikan yaitu infusoria, kutu air, jentik nyamuk, cacing sutera, serangga, kodok, dan ikan kecil. Untuk pakan buatan pada umumnya berbentuk pellet yang kadar proteinnya dapat diatur sesuai kebutuhan pertumbuhan ikan.
4. Memilih Calon Indukan Ikan Hias
Dalam proses pemijahan diperlukan indukan ikan jantan dan ikan betina. Induk yang digunakan harus cukup umur untuk dipijahkan dan sudah matang gonad (kelamin).
Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad pada ikan hias dapat dilihat dari cirinya seperti kalau pada induk betina, perut gendut kea rah genital dan apabila diraba terasa lembek serta halus, genital menonjol dan apabila diurut akan keluar telur. Untuk induk jantan bila diurut kearah genital akan mengeluarkan cairan sperma.
Calon indukan kondisi badannya harus sehat, tidak terjangkit penyakit dan berasal dari keturunan yang bagus. Untuk mendapatkan indukan ini anda bisa membeli ke peternak ikan hias dan bisa juga dengan cara hobiis atau menghasilkan sendiri.
5. Pemijahan Ikan Hias
Pada proses pemijahan atau pembuahan telurnya ada yang berlangsung secara internal dan eksternal. Kerana ikan hias ada yang bertelur dan beranak. Pada setiap jens ikan perlakuan proses pemijahannya berbeda. Untuk memudahkan kita harus menyiapkan media, bahan, alat yang diperlukan dalam proses pemijahan.
Ikan hias yang tidak bisa memijah sendiri atau secara alami dapat diperlakukan dengan cara menyuntikkan hormone perangsang (induced spawning) agar dapat memijah sendiri baik secara alami atau melalui pengurutan (stripping).
6. Penetasan Telur Ikan Hias
Lama waktu telur menetas tergantung pada masing-masing jenis ikannya. Biasanya telur akan menetas setelah 24 jam dan menjadi larva. Proses penetasan (inkubasi) telur dapat dilakukan di akuarium, kolam permanen, corong dan hampa.
Saat proses penetasan ada yang dilakukan dengan cara mengangkat induk secara keseluruhan atau ditinggal salah satu induknya. Ini tergantung jenis ikan hiasnya karena setiap jenis ikan hias memiliki karakteristik yang berbeda.
7. Perawatan Larva Hingga Pembesaran
Telur yang menetas akan menjadi larva. Larva ikan biasanya ditempatkan di akuarium, kolam bak, bak plastic, fiber glass, kolam tanah ataupun wadah lain.
Sejak menetas dan sampai kurang lebih berumur seminggu larva tidak perlu diberi makan karena cadangan makanan mereka masih ada yaitu berupa kuning telur (yolksack). Setelah seminggu baru bisa diberi makan berupa kutu air, infusoria, cacing sutera atau makanan lain baik yang alami maupun jenis makan buatan.
Di saat larva berubah menjadi ukuran benih dan mulai besar, maka pakan yang diberikan juga berubah. Pakan yang biasanya diberikan berupa kutu air, jentik nyamuk, cacing sutera, serangga, kodok, ikan kecil dan pellet. Pemberian pakan harus disesuaikan, karena jika tidak akan berpengaruh juga terhadap kualitas air. Apabila pemberian pakan berlebihan akan mengakibatkan kekurangan oksigen dalam air dan keracunan.
Untuk kepadatan penebaran benih harus disesuaikan dengan luasan media. Jangan terlalu padat karena dapat menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat dan jangan terlalu jarang karena tidak efisien atau pemborosan.
Ikan yang terawat akan mengalami pertumbuhan dengan baik. Namun biasanya ada yang tidak seragam, ada yang besar dibanding yang lain dan ada yang kecil. Untuk itu diperlukan penyortiran berdasarkan ukuran agar pertumbuhannya seragam.
Setelah dilakukan penyortiran berdasarkan ukuran, lakukan juga penyortiran anakan jantan dan betina. Ini dimaksudkan untuk menghindari pemijahan dini.
8. Hama Dan Penyakit Ikan Hias
Penyakit yang menyerang ikan hias berupa penyakit yang disebabkan oleh parasit dan bukan parasit (non parasiter). Penyakit yang disebabkan oleh parasit pada umumnya menyerang badan ikan, insang, maupun tubuh ikan itu sendiri. Penyakit ini berupa protozoa, cacing, jamur, bakteri, dan virus.
Penyakit yang disebabkan bukan dari parasit (non parasite) biasanya bersumber dari factor lingkungan dan makanan. Makanan yang tidak dibersihkan akan menimbulkan berbagai penyakit, oleh karena itu makanan harus dicuci terlebih dahulu sebelum diberikan.
9. Pemasaran Ikan Hias
Untuk memasarkan ikan hias kita bisa langsung menjualnya sendiri ke konsumen atau menggunakan jasa pengepul yang biasanya sudah mempunyai jaringan yang luas. Untuk memaksimalkan pemasaran para pembudidaya harus bisa membuka jaringan yang luas agar mendapat konsumen yang tetap.
Pembudidaya dianjurkan mempunyai pengepul tetap yang siap menampung hasil budidaya mereka. Yang terpenting para pembudidaya harus aktif mencari konsumen secara langsung maupun melalui media komunikasi.


Jumat, 15 Mei 2020

KANDUNGAN GIZI PADA IKAN


Kandungan gizi yang terdapat pada ikan, antara lain:

A. Protein
  1. Kandungan protein ikan lebih tinggi dari protein serealia dikacang-kacangan, setara dengan daging, sedikit dibawah telur.
  2. Protein ikan sangat mudah dicerna, sehingga baik bagi balita yang system pencernaannya belum sesempuna orang dewasa.
  3. Protein ikan mengandung berbagai asam amino dalam bentuk yang mendekati asam amino didalam tubuh manusia. Komposisi asam amino protein ikan juga lebih lengkap dibanding bahan makanan lain, salah satunya taurin, sangat bermanfaat merangsang pertumbuhan sel otak balita.
B. Lemak
  1. Asam lemak ikan merupakan asam lemak essensial yang sifatnya tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat bermanfaat untuk mempertahankan kesehatan tubuh dan menjaga kestabilan kadar kolesterol.
  2. Beberapa ikan yang berasal dari laut dalam seperti salmon, tuna, sarden dan makarel, mengandung asam lemak yang tergabung dalam kelompok asam lemak omega 3. Yang paling dominan dari kelompok ini adalah asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA). Keduanya bermanfaat dalam menurunkan kolesterol dalam darah dan meningkatkan pertumbuhan sel-sel otak sikecil

C. Vitamin
  1. Vitamin A : banyak terdapat pada minyak hati ikan bermanfaat mencegah kebutaan pada anak.
  2. Vitamin D : selain  terdapat dalam daging ikan, juga pada telur serta minyak hati ikan. Vitamin ini penting bagi pertumbuhan dan kekuatan tulang.
  3. Viatamin B6 : membantu metabolisme asam amino dan lemak serta mencegah anemia dan kerusakan syaraf.
  4. Vitamin B 12 bermanfaat dalam pembentukan sel-sel darah merah, membantu metabolisme lemak, dan melindungi jantung juga kerusakan syaraf

D. Mineral
  1. Zat besi: jauh lebih mudah diserap tubuh ketimbang dari sumber lain seperti serealia atau kacang-kacangan. Zat besi membantu mencegah terjadinya anemia.
  2. Yodium: mencegah terjadinya penyakit  gondok serta hambatan pertumbuhan anak, bahkan juga kecerdasannya.
  3. Selenium: berperan membantu metabolisme tubuh dan sebagai antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas, antioksidan bisa mencegah terjadinya penyakit degeneratif seperti jantung koroner.
  4. Seng: membantu kerja enzim dan hormone.
  5. Fluor: menguatkan serta menyehatkan gigi skecil.
Kandungan gizi berbagai jenis ikan per 100 gr (diambil dari sumber daftar komposisi bahan pangan) diantaranya sebagai berikut:

a. Ikan Salmon
   • Kalori     : 116
   • Protein (gr)   : 19.9
   • Lemak (gr)     : 3.45
   • Kolesterol (mg): 52
   • Zat besi (mg)  : 0.77

b. Ikan Tengiri
   • Kalori         : 112
   • Protein (gr)   : 21.4
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 33
   • Zat besi (mg)  : 0.9

c. Ikan Tongkol
   • Kalori         : 111
   • Protein (gr)   : 24
   • Lemak (gr)     : 1
   • Kolesterol (mg): 46
   • Zat besi (mg)  : 0.7

d. Ikan Kakap
   • Kalori         : 111
   • Protein (gr)   : 24
   • Lemak (gr)     : 1
   • Kolesterol (mg): 46
   • Zat besi (mg)  : 0.7

e. Ikan Kembung
   • Kalori         : 112
   • Protein (gr)   : 21.4
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 33
   • Zat besi (mg)  : 0.9

f. Ikan Bawal
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 18.2
   • Lemak (gr)     : 0.7
   • Kolesterol (mg): 44
   • Zat besi (mg)  : 0.4

g. Ikan Bandeng
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 14.8
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 58
   • Zat besi (mg)  : 0.3

h. Ikan Cue
   • Kalori         : 74
   • Protein (gr)   : 13
   • Lemak (gr)     : 2
   • Kolesterol (mg): 50
   • Zat besi (mg)  : 0.3

i. Belut
   • Kalori         : 112
   • Protein (gr)   : 21.4
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 33
   • Zat besi (mg)  : 0.9

j. Ikan Mas
   • Kalori         : 130
   • Protein (gr)   : 18.3
   • Lemak (gr)     : 5.8
   • Kolesterol (mg): 67
   • Zat besi (mg)  : 1.3

k. Ikan Lele
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 14.8
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 58
   • Zat besi (mg)  : 0.3

l. Ikan Wader
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 14.8
   • Lemak (gr)     : 2.3
   • Kolesterol (mg): 58
   • Zat besi (mg)  : 0.3

m. Ikan Mujair
   • Kalori         : 84
   • Protein (gr)   : 18.2
   • Lemak (gr)     : 0.7
   • Kolesterol (mg): 44
   • Zat besi (mg)  : 0.4

CARA PEMBENIHAN IKAN YANG BAIK (CPIB)

Benih merupakan faktor penting dalam pemeliharaan ikan. Benih harus tersedia dalam dalam jumlah yang cukup, berkualitas tinggi, dan tepat waktu. Penggunaan benih berkualitas merupakan salah satu jaminan keberhasilan panen. Salah satu indikator untuk mengukur kualitas benih adalah laju pertumbuhan dan tingkat kematian.

Penggunaan benih yang tidak berkualitas akan menyebabkan usaha pemeliharaan tidak ekonomis karena pemberian pakan menjadi tidak efisien, pertumbuhan lambat dan tidak seragam, mudah terserang penyakit sehingga menyebabkan produksi dan nilai produksi rendah.   

Akhir-akhir ini beberapa ikan seperti lele dumbo dan nila mengalami penurunan kualitas. Pada awal lele dumbo berkembang di Indonesia (tahun 1985), pemeliharaan benih ukuran 3-5 cm menjadi ukuran konsumsi dengan bobot antara 125 – 150 gram/ekor dapat dicapai dalam waktu 70 hari. Namun saat ini dengan pola pemeliharaan yang sama, waktu pemeliharaannya menjadi 100 hari. Penurunan laju pertumbuhan ini dapat disebabkan oleh menurunnya kualitas genetik.


Rendahnya kualitas genetik akan berakibat negatif terhadap sifat-sifat penting dalam budidaya ikan antara lain menurunnya tingkat kelulusan hidup dan pertumbuhan, meningkatnya individu yang asimetri dan abnormal. Seiring meningkatnya kebutuhan benih, banyak orang melakukan pembenihan sendiri. Benih yang dihasilkan kemudian dibesarkan dan dipijahkan lagi. Benih berikutnya juga dibesarkan dan dipijahkan lagi oleh pembenih lainnya. Begitu seterusnya tanpa ada kontrol secara biologis dan genetik.

Akibat kesalahan kolektif tersebut, mutu genetik menjadi semakin menurun dan kemudian berdampak pada pertumbuhan ikan. Karena pembenih memijahkan induk ikan yang masih berkerabat sangat dekat, atau yang biasa disebut kawin sekerabat (inbreeding). Akibatnya usaha budidaya menjadi tidak ekonomis karena menggunakan induk yang tidak berkualitas.

A.           BENIH BERKUALITAS

Untuk memperoleh benih berkualitas, beberapa kriteria yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut:

1.             Pembenih Terpercaya

Benih berkualitas dihasilkan oleh hatchery (balai benih) atau pembenih (breeder) terpercaya, yang menerapkan sistem produksi benih yang baik.

2.            Sehat dan Tidak Cacat

Benih yang hendak dipelihara haruslah benih yang sehat dan tidak cacat, baik cacat karena turunan maupun cacat karena luka atau terserang prnyakit. Benih yang sehat akan aktif bergerak dan akan merespon bila diberi rangsangan.

3.            Seragam

Benih yang berukuran seragam dapat memanfaatkan pakan lebih efisien karena tidak ada ikan yang selalu kalah bersaing dalam memperoleh makanan.

4.            Respon terhadap Pemberian Pakan

Benih yang berkualitas akan merespon pemberian pakan dengan menyambarnya ketika diberi pakan.

5.            Bebas dari Organisme Penyakit

Benih berkualitas bebas dari organisme penyakit seperti parasit, bakteri, jamur, atau virus.

6.            Sesuai dengan Standar

Benih berkualitas dapat dikenali berdasarkan sifatnya dalam memenuhi kriteria kualitatif maupun kuantitatif.

Kriteria kualitatif adalah kondisi yang ditunjukan oleh benih berdasarkan asal-usul dan hasil pengamatan secara kasat mata. Benih yang baik merupakan hasil pemijahan yang bukan satu keturunan dengan bentuk tubuh yang normal dengan pergerakan aktif, bak terhadap arus air maupun terhadap rangsangan dari luar.

Kriteria kuantitatif dapat diketahui dari data umur, panjang, keseragaman ukuran, bobot minimal, serta keseragaman kelincahan gerakannya terhadap rangsangan dari luar dan terhadap arus air.

B.            CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik)

   CPIB merupakan standar system mutu perbenihan paling dasar/sederhana yang seharusnya diterapkan oleh pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan yang bermutu, dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan,telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol melalui penera.pan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan biosecurity, mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).

Skema proses untuk mendapatkan benih ikan yang bermutu adalah sebagai berikut :



Rabu, 13 Mei 2020

Budikdamber (budidaya Tanaman dan Ikan Dalam Ember)

Budikdamber merupakan singkatan dari budidaya ikan dalam ember. Budikdamber dikembangkan oleh Bapak Juli Nursandi, S.Pi, M.Si dari Politeknik negeri Lampung. Teknik ini merupakan teknik pengembangan dari aquaponik dimana ikan dan tanaman tumbuh dalam satu tempat. Solusi ini didapat untuk mengatasi masalah lahan dalam budidaya tanaman dan ikan. Budikdamber cocok untuk wilayah perkotaan dimana lahan pekarangan pun sudah semakin sempit, kualitas dan kuantitas air nya juga sudah semakin berkurang. Budikdamber bida diterapkan untuk mengatasi solusi pangan masa depan.
Budidaya ikan dalam ember dengan sistem aquaponik berpeluang meningkatkan kebutuhan akan protein hewani dan sayuran serta memudahkan masyarakat mendapatkan ikan dan sayur di lingkungan tempat tinggal. Cara ini sangat baik dikembangkan diperumahan, perkotaan, apartemen, kontrakan, dan tempat-tempat pengungsian karena bencana atau daerah perkotaan yang sempit lahan tinggal. Selain mudah dilakukan, budikdamper menggunakan media yang kecil, portabel, hemat air dan tidak membutuhkan listrik.
Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat budikdamber adalah :
  • Ember ukuran 80 L atau bisa lebih kecil ukuran 15 L
  • Benih ikan lele/ikan nila yang tahan terhadap kualitas air.
  • Benih kankung/benih sayuran dataran rendah.
  • Gelas plastic ukuran 250 ml
  • Arang batok kelapa atau arang kayu.
  • Kawat yang agak lentur untuk mengaitkan gelas pada ember
  • Tang
  • Solder

Cara pembuatan budikdamber :
  1. Sediakan gelas untuk tempat bibit kangkung sebanyak 10-15 buah, lubangi dengan solder pada bagian samping dan bawah gelas.
  2. Untuk benih kangkung (ukuran bijinya besar) bisa ditaruh pada arang yang telah dihaluskan, lalu tutup dengan arang lagi. Jika ukuran benihnya kecil, bisa ditaruh dalam kapas, lalu tutup dengan arang yang telah dihaluskan. Jika ingin menanam kangkung yang sudah disemai terlebih dahulu, kangkung di masukan dengan akarnya dengan ukuran bibit kangkung sebesar kurang lebih 10 cm. Isikan arang batok kelapa sebanyak 50-80 % ukuran gelas.
  3. Potong kawat sepanjang 12 cm dan buat kait untuk pegangan gelas dalam ember.
  4. Isi ember dengan air sebanyak 60 liter diamkan selama dua hari.
  5. Isi ember dengan bibit ikan lele ukuran 5-12 cm(semakin besar semakin baik) sebanyak 60-100 ekor diamkan selama 1-2 hari.
  6. Setelah itu rangkai gelas kangkung dalam ember

Untuk pemeliharaan budikdamber, letakkan ember di tempat terkena matahari maksimal. Berikan pakan kepada ikan sesuai ukuran sekenyangnya bisa 2-3 kali dengan waktu tetap.(5-7cm pakan pf800,10cm pf1000, >12cm 781-2,781-1, 781). Perlu selalu diperhatikan keadaan ember, ikan dan tanaman. Amati nafsu makan ikan setiap hari. Apabila nafsu makan ikan menurun, air berbau busuk (NH3, H2S), ikan menggantung (kepala di atas, ekor ke bawah) segera ganti air atau lakukan sipon (Penyedotan kotoran di dasar ember dengan selang).
Tanaman kangkung akan terlihat tumbuh di hari ke-3. Jangan lupa perhatikan bila ada kutu di daun kangkung, segera buang daun atau batang karena kangkung akan kriting dan mati. Penampakan air akan berubah menjadi warna hijau. Saat pemberian pakan, saat itu pula tanaman kangkung perlu dilakukan penyiraman. Baiknya diberikan saat pagi dan sore hari. Penyiraman kangkung menggunakan air yang berasal dari ember.
Ganti air biasanya 10-14 hari sekali. Untuk penyedotan 5-8 liter, bisa lebih atau keseluruhan bila perlu, ganti dengan air bersih. Jika kangkung membesar maka dibutuhkan air lebih banyak, tambahkan air setinggi leher ember. Hal ini dilakukan agar air menyentuh akar kangkung.
Pemanenan kangkung dan ikan lele dilakukan secara terpisah. Waktu panen tanaman kangkung pertama adalah 14-21 hari sejak tanam. Saat panen sisakan kembali bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali. Panen ke-2 dan selanjutnya berjarak 10-14 hari sekali. Panen kangkung bisa bertahan 4 bulan. Untuk waktu panen ikan lele dapat dilakukan dalam 2 bulan, bila benih bagus dan pakan baik. Perlu diketahui tingkat bertahan hidup (survival) ikan lele 40-100%. Cara memanen ikan lele dilakukan dengan diserok atau dikuras airnya. Ikan lele bisa berkurang karena loncat terutama saat hujan atau dimakan oleh kucing.
            Keuntungan dari budidaya ikan dalam ember adalah hemat energy, karena tidak memerlukan aliran listrik seperti yang dilakukan pada budidaya hidroponik/aquaponik dan tidak perlu suplai oksigen maupun sirkulasi air kolam. Sederhana, murah dan tergolong mudah dalam pembuatannya. Budikdamber juga sangat hemat tempat. 1 ember bisa menampung 80 ekor lele. Dibanding kolam atau keramba. Hemat waktu dalam pemeliharaan, saat menguras air, pemanenan tanaman dan ikan. Cukup membuang air dalam ember, ikan bisa dipanen. Kangkung tinggal potong.
Budikdamber bisa berfungsi sebagai lahan pekarang sebagai warung hidup. Bisa menyediakan sayuran dan sumber protein dalam bentuk segar. Gizi tersedia setiap saat.

Sumber : Mulyati W,Desri. SP. 2019. Budikdamber (budidaya Tanaman dan Ikan Dalam Ember) di download pada laman http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/72659/Budikdamber-budidaya-Tanaman-dan-Ikan-Dalam-Ember/

Senin, 20 April 2020

Cara Budidaya Ternak Ikan Hias Air Tawar di Aquarium

agi sebagian orang, budidaya ternak ikan hias air tawar bisa menjadi salah satu hobi yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Dengan warna yang indah serta bentuk yang beraneka ragam membuat ikan hias itu sendiri selalu berhasil memakau siapapun yang melihatnya.
Meskipun banyak orang yang memelihara ikan hias hanya untuk sekadar hobi, ternyata bisnis budidaya ternak ikan hias air tawar itu sendiri tergolong sebagai bisnis yang cukup menguntungkan lho. Mengapa demikian?
Karena pada umumnya, Tak jarang banyak pecinta ikan hias yang sampai rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah hanya untuk melengkapi koleksi ikan hiasanya. Nah, dari sinilah kamu bisa melihat peluang budidaya ternak ikan hias air tawar yang menjanjikan.
Dengan modal yang tidak terlalu besar dan sedikit keterampilan yang dibutuhkan, bisnis budidaya ternak ikan hias air tawar memang terlihat begitu menggiurkan namun juga dengan potensi income yang tidak main-main.
Selain itu, satu alasan lainnya yang membuat bisnis budidaya ternak ikan hias air tawar bisa menjadi sumber penghasilan yang menguntungkan karena bisnis satu ini tidak membutuhkan lahan yang terlalu besar. Bisnis budidaya ternak ikan hias air tawar bisa dilakukan hanya dengan bermodalkan aquarium saja.
Apakah kamu tertarik untuk memulai bisnis ini? Caranya cukup mudah kok. Ikuti saja beberapa langkahnya berikut ini.
Cara Mudah Budidaya Ternak Ikan Hias Air Tawar
1. Mempersiapkan Wadah
Yang namanya bisnis apalagi yang berhubungan dengan makhluk hidup, mempersiapkan lahan yang cukup merupakan salah satu langkah awal yang harus dilakukan. Berbeda dengan budidaya ikan lainnya yang harus memiliki lahan untuk membuat kolam, budidaya ternak ikan hias air tawar hanya memerlukan aquarium saja untuk melakukannya.
Sebenarnya untuk aquarium, kamu tidak perlu membeli baru dengan harga mencapai jutaan lho. Hanya perlu memanfaatkan barang-barang bekas yang ada dan dipastikan tidak bocor, kamu sudah bisa membuat aquarium sendiri. Selain itu, wadah tersebut juga harus memiliki sistem aliran air yang membuat air akan terus bergerak.
Wadah untuk pemeliharaan budidaya bisa digunakan untuk berbagai fungsi, seperti untuk perawatan induk ikan, tempat pemijahan, tempat penetasan telur, tempat pendederan, tempat pembesaran, serta tempat untuk penampungan hasil.
Sesuaikanlah wadah dengan jenis ikan yang dibudidayakan, termasuk dengan tubuh dari ikan hias itu sendiri. Ikan hias tentu memiliki ukuran tubuh yang berbeda-beda. Ada yang berukuran sangat kecil ada pula yang memiliki ukuran lebih besar. Jangan sampai kamu meletakan ikan hias ukuran besar di aquarium yang tidak bisa menampung tubuhnya.
2. Penyesuaian Wadah Ikan Hias
Seperti yang telah sedikit disinggung di poin sebelumnya bahwa ikan hias memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Namun tidak hanya itu saja. Ikan hias juga memiliki lingkungan hidup yang berbeda dari satu dan yang lainnya, sehingga masing-masing wadah harus pula disesuaikan dengan lingkungan hidup dari masing-masing ikan.
Hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap berkembanganya ikan hias yaitu adalah air, suhu, derajat keasaman (PH), kandungan oksigen dan juga kecerahan. Maka dari itu, cari tahulah jenis-jenis ikan hias yang akan kamu budidaya sembari menyesuaikan pula dengan wadahnya itu sendiri.
Untuk budidaya ternak ikan hias air tawar, sediakanlah air dengan kandungan kimiawi zero dengan suhu air yang sebaiknya berkisar antara 24-30 C. Selain itu, keasaman air (PH) harus kurang lebih 6-7, oksigen terlarutnya >3 ppm serta kecerahan air berkisar 30-60 cm.
Sumber air bisa kamu dapatkan dari mana saja, bisa itu dari tanah, air sungai ataupun air PAM. Pada nantinya, air yang akan digunakan untuk budidaya harus didiamkan terlebih dahulu dan diendapkan selama 12-24 jam sebelum mulai digunakan.
Hal ini harus dilakukan dengan tujuan agar kandungan oksigen terlarutnya cukup dan gas-gas yang terdapat di dalam air menghilang.
Untuk menyesuaikan, PH dapat dilakukan dengan memberikan kapur pertanian atau kapur bordo dengan dosis secukupnya agar tidak terlalu asam. Selain itu, air yang digunakan untuk budidaya juga pastinya akan mengalami penurunan kualitas atau kotor akibat sisa pakan dan kotoran ikan.
Maka dari itu, bersihkanlah air secara rutin dengan cara membuka pipa pembuangan atau menyedotnya dengan maksimal ¾ bagian. Setelah itu, isi kembali air yang sudah diendap sebelumnya.
3.  Pakan
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tak terkecuali dalam budidaya ternak ikan hias air tawar. Pakan untuk ikan hias terbagi dua, yaitu pakan alami dan pakat buatan. Pakan alami yang bisa diberikan yaitu adalah infusoria, kutu air, jentik nyamuk, cacing sutera, serangga, kodok, dan ikan kecil.
Sedangkan untuk pakan buatan, kamu bisa memberikan mereka pellet dengan kadar protein yang telah diatur sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan ikan.
4. Memilih Calon Indukan Ikan Hias
Cara budidaya ternak ikan hias air tawar selanjutnya yaitu dengan memilih calon indukan ikan hias. Di dalam proses pemijahan, kamu akan membutuhkan indukan ikan jantan dan indukan ikan betina yang sudah cukup umur dan matang gonad (kelamin).
Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad pada ikan hias, dapat dilihat dari ciri-cirinya yang unik. Untuk betina, perut akan terlihat gendut ke arah genital dan apabila diraba, maka akan terasa lembek dan halus.
Selain itu, genital juga terlihat menonjol dan apabila diurut maka akan mengeluarkan telur. Sementara itu untuk indukan jantan, bila diurut ke arah genital akan mengeluarkan cairan sperma.
Calon indukan yang digunakan untuk budidaya harus memiliki kondisi tubuh yang sehat, sedang tidak terjangkit penyakit serta berasal dari keturunan yang bagus pula. Kamu bisa membeli indukan di peternakan ikan hias atau menghasilkannya sendiri.
5. Pemijahan
Di dalam proses pemijahan budidaya ternak ikan hias air tawar, terdapat dua jenis proses pemijahan yang bisa dilakukan, yaitu internal dan eksternal. Hal tersebut dikarenakan ikan hias tidak semua bertelur, melainkan ada pula yang beranak, yang mana setiap proses pemijahan maka harus dilakukan secara berbeda.
Maka dari itu, guna mempermudah proses pemijahan tersebut, maka kamu harus mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan, mulai dari media, bahan, serta alat-alat lainnya. Ikan hias tidak bisa memijah sendiri. Karena hal itulah, proses yang harus kamu lakukan adalah dengan menyuntikan hormone perangsang akan ikan hias tersebut dapat memijah sendiri dengan baik secara alami.
6. Penetasan Telur
Proses penetasan telur memiliki jangka waktu yang berbeda-beda tergantung dari jenis ikannya. Namun biasanya telur akan menetas kurang lebih selama 24 jam dan berubah menjadi larva. Proses penetasan (inkubasi) dapat dilakukan di aquarium, kolam permanen, corong dan hampa.
7. Perawatan Larva Hingga Tumbuh Besar
Telur ikan yang menetas akan berubah menjadi larva. Biasanya, larva akan ditempatkan di akuarium, kolam bak, bak plastik, fiber glass, kolam tanah, dan wadah lainnya. Nah, ketika menetas hingga kurang lebih berusia seminggu, larva tidak perlu diberi makan karena mereka sudah memiliki cadangan makanannya sendiri, yaitu berupa kuning telur.
Setelah seminggu, barulah kamu bisa memberi mereka makan berupa kutu air, infusoria, cacing sutera, atau jenis makanan lainnya. Hanya saja, akan lebih baik apabila larva diberi makan dari pakan alami.
Ketika larva sudah berubah menjadi benih dengan ukuran yang lebih besar, maka pakan yang diberikanpun juga harus berubah. Biasanya, pakan yang diberikan dapat berupa serangga, kodok, ikan kecil dan pellet. Selain itu perlu diketahui pula bahwa pemberian pakan harus disesuaikan, jika tidak maka akan berpengaruh terhadap kualitas air.
Untuk penebaran benih, usahakan agar tidak terlalu padat dan disesuaikan pula dengan keluasan media yang digunakan. Penebaran benih yang terlalu padat justru akan menghambat pertumbuhan ikan sedangkan tidak penebaran benih terlalu luas, maka akan cenderung tidak efisien atau pemborosan.
8. Hama dan Penyakit
Semua jenis bisnis yang ada, memang sepertinya tidak ada satu bisnispun yang aman atau terhindar dari risiko, termasuk bisnis budidaya ternak ikan hias air tawar. Dalam hal ini, hama dan penyakit merupakan salah satu risiko yang harus diwaspadai.
Penyakit yang menyerang ikan hias biasanya disebabkan oleh parasit dan menyerang badan ikan, insang, maupun tubuh dari ikan itu sendiri, Namun ternyata, ikan juga bisa diserang dengan yang bukan parasit lho, seperti dari faktor lingkungan dan makanan. Jadi, berhati-hatilah.
Jangan lupa untuk selalu membersihkan air secara rutin dan berikanlah ikan hias pakan yang higenis, agar bisa terbebas dari berbagai risiko penyakit yang menyerang.
9. Pemasaran
Nah, langkah terakhir dari bisnis budidaya ternak ikan hias air tawar yaitu pemasaran. Untuk memasarkan ikan hias, kamu bisa menggunakan jasa pengepul yang biasanya juga sudah memiliki jaringan yang luas. Perlu diingat bahwa kamu harus memiliki jaringan yang luas dalam menjalankan bisnis budidaya agar kamu bisa menemukan pangsa pasar yang pasti.

Bioflok, Budidaya Ikan Lele dan Nila di Lahan Terbatas

Syamsul Mansyur atau biasa dipanggil Daeng Nawing (46) menebar pelet ke kolam ikan yang berada di halaman rumahnya. Air kolam yang tadinya tenang berubah beriak, ikan-ikan nila berlompatan rakus melahap setiap butir pelet yang diberikan padanya.
Ada sekitar 3000 ekor ikan nila yang ditebar di kolam yang hanya berukuran 2×3 meter itu setinggi 80 cm itu. Begitu padatnya sehingga tak ada ruang yang cukup bagi ikan untuk berenang bebas.
Kepadatan itu adalah sebuah kesengajaan. Sebuah teknik pembiakan ikan yang disebut bioflok, teknik pembiakan ikan dengan cara menumbuhkan bakteri di dalam air.
“Bio artinya hidup, flok itu gumpalan. Jadi bioflok itu adalah gumpalan hidup. Jadi bakteri-bakteri itu tumbuh menjadi gumpalan yang akhirnya tumbuh menjadi makanan ikan,” jelas Syamsul ketika ditemui Mongabay awal September 2016.
Dengan metode ini, sisa-sisa pakan atau kotoran ikan akan diolah oleh bakteri tersebut lalu jadi makanan lagi. Hanya memang tetap diberi pakan. Keuntungan sistem ini dibanding metode konvensional adalah penggunaan air yang sedikit karena kepadatan ikan di kolam tersebut memiliki aturan tersendiri.
“Di sini ikannya sekitar 3000-an. Karena ikannya masih kecil-kecil. Ketika ikan sudah cukup besar maka ikan-ikan ini harus dipisah sehingga tersisa hanya sekitar 800-an. Kalau yang ada di kolam ini umurnya sudah 3 bulan, sebentar lagi kami pisah.”
Kelompok Budidaya
Syamsul adalah Ketua Kelompok Abbulo Sibatang, salah satu kelompok usaha budidaya ikan yang mendapat dukungan dari Coastal Community Development Program International Fund for Agricultural Development (CCDP – IFAD) di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar.
Kelompok Abbulo Sibatang yang dalam Bahasa Makassar berarti satu kesatuan, atau kerja sama yang erat ini dibentuk sejak 2013. Awalnya dibentuk untuk usaha peternakan dan perikanan, belakangan berubah hanya fokus untuk budidaya ikan saja.
Usaha budidaya dengan metode bioflok ini hanya merupakan usaha pribadi dari Syamsul saja, menindaklanjuti hasil pelatihan dari Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Peternakan (DKP3) Makassar. Belakangan Syamsul bersama teman-teman seprofesi sepakat membentuk kelompok budidaya tersebut.
“Usaha budidaya ini masih sangat baru, sekitar 4 tahun lalu. Awalnya tidak begitu berkembang. Usaha teman-teman pun sempat mandek.”
Kelebihan budidaya dengan metode bioflok ini adalah biaya pakan yang lebih rendah dan penggunaan lahan yang tak begitu luas, bisa memanfaatkan pekarangan rumah. Pada bulan pertama dan kedua biaya pembelian pakan hanya sekitar Rp750 ribu sebulan. Sementara pada bulan ketiga dan bulan berikutnya semakin bertambah hingga Rp1 juta lebih.
“Kalau perhitungan kasarnya untuk 4000 ekor nila biaya yang harus dikeluarkan hingga panen sekitar Rp6 juta – Rp7 juta. Sementara jika panen sukses maka hasilnya bisa mencapai Rp20 juta – Rp25 juta, dalam kurun waktu panen sekitar 6-7 bulan. Jadi kemarin kita hitung-hitung sekitar Rp4 juta per bulan pendapatannya. Karena ini masih baru jadi kita belum bisa lihat perkembangannya,” jelas Syamsul.
Biaya pembuatan kolamnya sendiri tak lebih dari Rp6 juta yang bisa memuat 3000 ekor ikan lele atau 900 ekor ikan nila. Cuma harus dibuat beberapa kolam agar bisa dipindahkan sebagian jika isi kolam sudah terlalu padat.
Terkait pola makan untuk ikan nila, Syamsul masih terus meneliti dan melakukan uji coba takaran makanan yang tepat. Sementara terkait tingkat kematian ternyata relatif lebih kecil.
“Berbeda kalau lele, karena mereka sifatnya kanibal jadi kalau terlambat diberi makan maka mereka akan saling makan.”
Untuk ikan lele sendiri, metode ini memiliki kekurangan tersendiri. Dibanding metode konvensional metode ini kurang bisa bersaing dari segi harga produk, meski secara kualitas ikan lebih baik. Penyebabnya, kebiasaan masyarakat Makassar yang lebih senang mengkonsumsi ikan lele yang lebih besar, sementara hasil dari bioflok memiliki ukuran yang lebih kecil.
“Tapi di Makassar jarang ada peminat yang besarnya seperti itu. Biasanya kalau di Makassar lebih suka yang besaran 4-5 ekor per kg, jadi waktu panennya lebih lama. Apalagi dengan sistem yang kita terapkan ini pakan pelet.”
Sementara, penggunaan pakan berupa jeroan, bangkai ayam dan-lain-lain, perkembangannya relatif lebih cepat. Bisa panen dalam 4 bulan, sementara dengan bioflok masanya 5-6 bulan. Semakin lama waktu produksi maka semakin membengkak biaya yang harus dikeluarkan.
Menurutnya, biaya budidaya ikan lele ini cukup besar untuk pembelian pakan. Kelebihannya pada jenis pakan yang digunakan kaya protein. Metode ini juga tidak terlalu merepotkan dan ramah lingkungan karena tidak meninggalkan bau sehingga tidak mengganggu tetangga.
“Itulah alasan kami mau coba dengan metode ini, meski konsekuensinya biaya usaha meningkat karena jangka waktu panen yang lebih lama, menunggu sampai ikannya besar seperti standar ikan lele di sini.”
Menurut perhitungan Syamsul, jika mereka menebar 3000-4000 bibit ikan, dengan penggunaan pakan alternatif ini, biaya yang mereka harus keluarkan per bulan sekitar Rp400 ribu – Rp500 ribu.
“Karena kita panen sekitar 4-5 bulan jadi biayanya sekitar Rp2 jutaan. Ditambah biaya bibit sekitar Rp1 juta. Hasil panen sendiri sekitar Rp6 juta.”
Meski memiliki kekurangan, namun Syamsul menilai budidaya dengan metode bioflok ini masih memiliki prospek untuk dikembangkan, namun syaratnya memang harus dilakukan dalam skala besar.
“Kalau menurut saya, program ini bisa lebih efektif kalau skalanya lebih besar. Saat ini, untuk menyesuaikan pasar yang sesuai keinginan masyarakat Makassar agak susah. Kalau nanti harganya  berbeda antara yang pakan biasa dan bioflok ini, mungkin akan menguntungkan. Sayangnya harganya masih relatif sama karena masyarakat kita belum bisa membedakan.”
Untuk penjualan ikan lele sendiri melalui pedagang yang rutin membeli dalam skala besar. Penjualan dalam skala eceran tidak mereka layani karena kecenderungan ikan lele yang memiliki tingkat stres yang tinggi, yang akan terganggu ketika diaduk di saat pengambilan ikan.
Untuk ikan nila sendiri, karena masih uji coba, Syamsul belum bisa menjelaskan lebih jauh dari segi keuntungan, kecuali estimasi di atas kertas. Pasarnya sendiri telah tersedia, karena kebutuhan ikan nila yang cukup besar di Kota Makassar.
“Beberapa pedagang tempat kami beli bibit menjamin untuk membeli hasil budidaya kami karena melihat potensi ikan di Makassar dan malah ada yang diekspor.”
Secara manfaat, Syamsul menyatakan sangat terbantu dengan adanya CCDP – IFAD ini, karena sarana dan prasarana yang yang mereka terima, termasuk kebutuhan pakan dan bibit yang terpenuhi dengan baik. Di antara seluruh pembiayaan, penggunaan terbesar dari dana yang mereka terima digunakan untuk kebutuhan pakan.
Manfaat lain yang dirasakan adalah pada kebersamaan sesama anggota kelompok, sehingga mereka bisa saling berbagi pengalaman dalam budidaya melalui metode bioplok ini.

Untung Besar dari Bisnis Budidaya Lobster Air Tawar

  Memiliki warna biru yang cerah disertai bentuk tubuh yang terlihat kekar dan anggun menjadikan lobster air tawar menarik dijadikan hiasan ...