Kamis, 26 Juli 2018

Teknik Budidaya Ikan Mas


PENDAHULUAN
Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, ikan mas ini mempunyai badan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di China. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara pada tahun 1920 yang merupakan ikan yang dibawa dari China, Eropa, Taiwan dan Jepang. Sedang ikanmas yang hasil seleksi di Indonesia adalah ika mas punten dan majalaya.
Budidaya ikan mas ini telah berkembang pesat dikolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan dipelihara di karamba di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta.

DESKRIFSI IKAN MAS
Dalam ilmu taksonomi hewan, ikan mas mempunyai klarifikasi sebagai berikut:
·   Kelas                   : Osteichthyes
·   Anakbangsa        : Actinopterygii
·   Bangsa                                : Cypriniformes
·   Suku                    : Cyprinidae
·   Marga                 : Cyprinus
·   Jenis                    : Cyprinus carpio L

Saat ini ikan mas mempunyai banyak strain dan jenis perbedaan ciri dan ras ini diakibatkan adanya interaksi antara genotif dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya.
Adapun morfologi dari ikan mas dari beberapa strain adalah sebagai berikut :
a.  Ikan mas punten : sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;  bagian punggung tinggi melebar;  mata agak menonjol; gerakan lincah; perbandingan antara tinggi badan dengan panjang badan antara 2,3:1.
b.  Ikan mas sinyonya : sisik berwarna kuning muda ; badan relatif panjang matra pada ikan muda tidak terlalu sipit sedangkan ikan dewasa bermata sipit ; gerakannya lamban ; lebih suka di permukaan air ; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6 :1.
c.  Ikan mas majalaya : sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap ; punggung tinggi ; badan relatif pendek ; gerakan lamban apabila diberi pakan akan muncul kepermukaan air ; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,2 :1.
d.  Ikan mas taiwan : sisik berwarna hijau kekuning-kuningan ;badan relatif panjang ; penampang punggung mambulat ; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan 3,6 :1.
Adapun habitat dan kebiasaan hidup ikan mas adalah sebagai berikut :
a.  Tanah untuk pemeliharaan adalah tanah liat berlempung, tidak porous.
b.  Kemiringan tanah berkisar 3-5% memudahkan pengairan kolam secara garvitasi.
c.  Hidup pada ketinggian 150-1000 m dpl.
d.  pH yang baik adalah antara 7-8
e.  Suhu air berkisar 20 25 °C.
f.   Akualitas air harus bersih tidak keruh dan tidak tercemar.

PROSES BUDIDAYA IKAN MAS
Persiapan Sarana Pemijahan
Hal yang harus diperhatikan dalam pemijahan ikan masadalah sebagai berikut:
o Kolam pemijahan tidak berlumpur dan bercadas
o Induk ikan harus matang gonad
o Media penyimpan telur (kakaban) harus bersih
o Pemberian pakan
Pemilihan Induk
Induk yang baik dan yang sudah matang kelamin sebaiknya :
o Berumur 1,5 – 3 tahun.
o Badan sehat tidak cacat dan berenang normal.
o Bentuk kepala relatif lebih kecil dari badannya.
o Gerakan harus tangkas dan gesit, terutama induk jantan
Proses Pemijahan
Untuk keberhasilan pemeliharaan ikan mas harus dipenuhi beberapa syarat yang penting yang sesuai dengan kebiasaan berkembangbiaknya. Ikan mas biasanya menghendaki air yan baru untuk merangsang pemijahannya. Oleh karenanya dalam pemijahan ikan mas sirkulasi air harus lancar.
Selain itu sifat telur ikan mas yang menempel, harus selalu disediakan alat berupa kakaban sebagai tempat untuk tempat menempel telur. Setelah kolam pemijahan siap, kemudian tebarkan induk yang telah diseleksi dimasukkan kedalam kolam pemijahan dengan perbandingan jantan dan betina biasanya menggunakan berat badan 1 : 1, jika induk betina beratnya 3 kg, maka jantannya juga memiliki berat yang sama. Dan apabila semua persiapan lancar, maka proses pemijahan akan berlangsung sekitar jam 24.00. Hal ini akan ditandai dengan aktifitas ikan jantan mengejar – ngejar induk betina. Dan pada pagi hari telur – telur akan terlihatan menempel dikakaban dan warna telur kuning cerah.
Penetasan Telur
Setelah induk dikeluarkan, maka kondisi air harus dijaga dengan cara air terus alirkan dan jangan sampai berhenti, karena telur-telur membutuhkan air yang kaya oksigen dan suhunya stabil. Kurang lebih 2 hari kemudian telur akan menetas. Penetasan ini biasanya tidak berlangsung sekaligus melainkan secara bertahap sesuai dengan pengeluaran telurnya.Larva yang baru menetas belum membutuhkan makan tambahan dari luar karena masih menyimpan makanan dalam tubuhnya berupa kuning telur (yolk egg).
Pendederan
Setelah benih berumur 5 – 7 hari sejak telur menetas, segara dipindahkan ke kolam pendederan. Pemindahan benih ini gampang-gampang susah, karena harus dilakukan dengan hati-hati. Pemindahan ini sebaiknya dilakukan pada saat suhu air masih rendah yaitu pagi hari atau sore hari. Pemasukan benih ke dalam kolam jangan dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi sebaiknya dilakukan penyusuai suhu terlebih dahulu agar benih tidak mengalami stress akibat perubahan suhu. Tinggi air di kolam pendederan sebaiknya tidak lebih dari 40 cm karena benih yang masih lemah tidak tahan jika terlalu banyak.
Pembesaran
Benih hasil pendederan (ukuran 5-8 cm) baru bisa dinikmati sebagai ikan konsumsi setelah berumur 4-6 bulan yang dipelihara di kolam pembesaran. Sebelum benih dipindahkan ke kolam pembesaran sebaiknya kolam dipersiapkan terlebih dahulu.

HAMA  PENYAKIT DAN PENCEGAHANNYA
Dalam usaha pemeliharaan ikan, hama dan penyakit merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan kerugian dan kematian bagi ikan yang dipelihara. Umumnya penyakit ikan timbul karena kondisi lingkungan kolam yang buruk. Keadaan ini dapat terjadi karena persiapan dan perawatan kolam yang kurang baik. Selain itu tingginya kadar bahan organik dan anorganik serta banyaknya sisa pakan yang yang tidak habis dimakan oleh ikan sehingga mengakibatkan pembusukan didasar kolam.
Adapun penyakit ikan mas yang sering menyerang pada umumnya gejala dan cara pengobatannya adalah sebagai berikut :
1.  white spot (bintik putih)
·  
gejala : pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) terdapat bintik-bintik putih, pada infeksi berat terdapat lapisan putih yang jelas, megosok-gosokan badannya pada benda yang ada disekitarnya.
·   pengobatan kimia : direndam dalam larutan methylene blue 1% (1 gram/100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc kedalam 4 liter air selama 24 jam dan direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit dengan dosis 1-3 gram/100 cc air.
·   pengobatan alami : direndam dalam ekstrak sambiloto atau ektrak pare.
2.  bengkak insang dan badan (myxosporesis)
·   gejala : bagian punggung terjadi pendarahan tutup insang terbuka dan terdapat titik merah.
·   pengobatan kimia : pengeringan total lalu tabur kapur tohor 200 gram/m², biarkan selama 1-2 minggu.
·   pengobatan alami : dilakukan perendaman dalam ekstrak daun sirih
3.  cacing insang, sirip dan badan (dactypogyrus dan girodactylogyrus)
·   gejala : ikan tampak kurus, warna kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok, ikan sering mengosok-gosokan badannya ke benda-benda yang keras.
·   pengobatan kimia : direndam dalam larutan formalin dengan dosis 250 gram/m³ selama 15 menit, dan direndam dalam larutan methylene blue 3 gram/m³ selama 24 jam.
·   pengobatan alami : rendam selama 1 minggu dalam larutan daun miana dengan dosis 50 lembar/100 liter air.
4.  argulasis (kutu air)
·   gejala : benih dan induk menjadi kurus karena dihisap darahnya, pada kulit insang terdapat bercak merah.
·   pengobatan kimia : direndam dalam garam dapur dengan dosis 20 gram/ liter air selama 15 menit dan direndamdalam larutan PK 10 ppm (10 ml/m³) selama 30 menit.
·   pengobatan alami : direndam dalam larutan ekstrak kunyit selama 1 minggu dengan dosis 1 gram/L air
5.  jamur (saprolegniasis)
·   gejala : menyerang kepala, tutup insang, sirip dan lain sebagainya, tubuh ikan seperti kapas, telur ikan mas seperti berbenang halus seperti kapas.
·   pengobatan kimia : direndam dalam cairan malactile gren oxalat (MGO) dosis 3 gram/m³ selama 30 menit apabila telur yang tersaerang direndam dalam larutan MGO 2-3 gram/m³ selama 1 jam.
·   pengobatan alami : rendam dalam larutan ekstrak kunyit
6.  gatal (trichodina)
·   gejala : suka menggosok-goskan badan pada sisi kolam, bak atau aquarium. Gerakan lamban
·   pengobatan kimia : rendam selama 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm
·   pengobatan alami : ektrak kunyit dengan dosis 2-4 gram/50 liter air selama 1 minggu
7.  bakteri psedomonas flurescens
·   gejala :  pendarahan dan bobok pada kulit, sirirp ekor terkikis
·   pengobatan kimia : pemberian pakan yang dcampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafa merazine 200 mg/kg ikan selama 7 haru berturut-turut.
·   pengobatan alami : rendam dalam ekstrak daun miana 10 lembar/100 liter airselama 1 minggu
8.  bakteri aeromonas punctata
·   gejala : warna  badan suram, tidak cerah, kulit kesat dan melepuh, cara bernapas megap-megap, kantong empedu gembung, pendarahan dalam organ hati dan ginjal
·   pengobatan kimia :penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100 mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
·   pengobatan alami : pakan dicampur dengan parut kunyit dengan dosis 4-5 gram/kg pakan berikan selama 7 hari berturut-turut.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto,E dan Evi Liviawati” Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan”. Kanasius. Yogyakarta 2000.
Daelami, Deden A.S ” Agar Ikan Sehat”. Penebar Swadaya. Jakarta 2001.
Lingga, P dan Heru Susanto” Ikan Hias Air Tawar”. Penebar Swadaya. Jakarta 1989.
Wijayakusuma, Hembing. H.M, Setiawan Dalimarta dan A.S. Wrian” Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia”. Pustaka Kartini. Jakarta.
www.kkp.go.id. ” Penyakit Ikan”. 2005.
www.iptek.net.id.” Budidaya ikan mas” 2005.

Argasasmita G.M. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Mas Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Sumber : Fahrur Razi, SST. 2014. Folder Penyuluhan Perikanan "Teknik Budidaya Ikan Mas"

Senin, 11 Juni 2018

Aspek Biologi Ikan Patin Jambal

A.    MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI IKAN PATIN JAMBAL
Ikan patin jambal (Pangasius jambal)  memiliki ciri khusus, yaitu kulit halus, dua pasang sungut yang relatif pendek, jari-jari sirip punggung dan sirip dada sempurna dengan tujuh jari-jari bercabang, sebuah sirip lemak berpangkal sempit, sirip dubur panjang dan bersambung dengan sirip ekor, sirip ekor bercagak dalam, letak mulut agak mengarah ke depan (Kottelat, 1993).
Klasifikasi Ikan Patin  Jambal adalah sebagai berikut :
                Ordo                       : Ostrariophysi
                Famili                      : Pangasidae
                Genus                     : Pangasius
                Spesies                   : Pangasius jambal
Nama ilmiah beberapa jenis Pangasius mengalami perubahan, diantaranya Pangasius pangasius yang dahulu sering disebut sebagai salah satu jenis patin yang berada di Indonesia, ternyata suatu kekeliruan. Jenis tersebut hanya terdapat di Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, India dan Burma. Jenis yang diidentifikasi sebagai PangasiusPangasius sebenarnya adalah Pangasiusdjambal yang terdapat di Jawa dan Kalimantan. Jenis patin ini dapat mencapai panjang (baku) sedikitnya 60 cm. Sedangkan nama jenis patin impor dan sudah banyak dibudidaya sekarang dikenal dengan nama Pangasiussutchi telah mengalami perubahan (sinonim) sebagai Pangasiushypophthalmus (Roberts dan Vithayanon, 1991). Jenis ikan patin yang dapat mencapai ukuran besar dari Sumatera (Jambi, Batanghari) dan Kalimantan (Barito dan Kapuas) adalah Pangasius nasutus.

B.    HABITAT, KEBIASAAN MAKAN DAN MAKANAN
Di alam, patin jambal ditemukan berukuran lebih dari 24 kg dengan panjang lebih dari satu meter.  Tambahan pula, ikan ini mempunyai  ketahanan yang tinggi terhadap penyakit dan sangat toleran pada perubahan kondisi kimia dan fisika air dan juga sangat mudah dipelihara (Praseyto, 1996).
Ikan patin jambal  banyak terdapat di sungai-sungai, mulai dari bagian hilir (muara sungai) daerah pasang surut, bagian tengah dan hulu. Jenis patin lokal seperti Pangasius nasutus bersifat karnivora, pemakan ikan, udang, insekta, siput.  Adapula jenis patin yang bersifat omnivora, seperti pada sadarin (Pangasius polyuranodon) (Djajadiredja dkk., 1977).  Ikan jambal siam adalah omnivora, yaitu pemakan jasad hewani dan tumbuh-tumbuhan air, seperti alga benang, kangkung dan sebagainya.  Di tempat pemeliharaan jenis ikan sangat responsif terhadap pakan berbentuk pelet.Namun saat larva bersifat karnivora. Makanan yang disukainya Brachinus sp, Crustacea, Caladocera. Larva yang baru habis kuning telurnya mempunyai sifat kanibal yang tinggi.

C.    PEMBIAKAN DI ALAM
Ikan patin jambal  di perairan alam, seperti halnya jenis-jenis ikan sungai lainnya memijah pada musim hujan.  Di sungai Indragiri (Riau), pada musim pemijahan ikan patin bermigrasi dari muara ke hulu. Pada musim pemijahan ini ikan patin banyak ditangkap dengan jaring yang dipasang melintang dan dihanyutkan. Ikan Patin yang tertangkap sedang mengandung telur yang matang dan pada ikan jantan sudah mengandung sperma.
Ukuran fingerling (benih mudah) biasanya berada dibatasi oleh musim hujan yaitu bulan Oktober hingga Maret (Hardjamulia dkk, 1981).   Secara alami, perkembangan gonada ikan jambal dipengaruhi oleh lingkungan seperti suhu air, fluktuasi ketinggian air, curah hujan. Menurut Huisman dan Ritcher, (1987)  umumnya ikan jambal  mengalami kematangan pada musim hujan dari bulan Oktober – April. 
Irama  tahunan perkembangan gonada terbagi atas tiga periode. Periode pemijahan pada bulan Mei  sampai Agustus dimana  pituitary gonadotropin  ditemukan mencapai puncak maksimum. Periode istirahat  (Resting period) (September-February), gonadal steroidogenesis banyak direduksi , gametogenesis belum terlihat , pituitary gonadotropin mengalami penurunan. Periode ketiga adalah pasca pemijahan   (prespawning period) berkarakteristik terjadinya peningkatan kandungan   pituitary gonadotropin.

D.    GONADA JANTAN DAN BETINA IKAN PATIN JAMBAL
Induk jambal sudah mulai dapat dipijahkan setelah berumur 4 tahun dan memijah pada musim hujan. Tanda-tanda induk yang matang Gonad :
·       Betina   : 
perut nampak besar, lembek dan lubang kelamin berwarna kemerahan.  Khusus untuk ikan betina saja, adalah induk gelisah, sering bergerak ke    per mukaan air, serta bergerak dengan menggerak-gerakkan ekornya.
·       Jantan   :
lubang kelamin berwarna kemerahan dan bila dipijit ke arah lubangkelamin akan keluar cairan berwarna putih (sperma).

 E.     PERKEMBANGAN TELUR MENJADI LARVA 
Bila kita memijahkan ikan patin jambal secara buatan, telurnya  bersifat lekat jika diberi air akan bergumpal. Untuk mengurangi penggumpalan, telur pada waktu dicuci diaduk terus dengan bulu ayam dan penambahan larutan garam tertentu. Khususnya pada ikan jambal siam, sifat daya lekat telur ini bervariasi secara individual. Ada induk yang menghasilkan telur dengan daya lekatnya tinggi, dan ada pula yang daya lekatnya rendah.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian telur jambal berukuran sekitar 1,3 – 1,5  mm. Telur menetas sekitar 24 jam pada suhu 24-28o C. Larva yang baru menetas berukuran sekitar 3,1 mm dengan bobot sekitar 0,6 - 1,6 mg yang mengandung kuning telur. Kuning telur mulai habis diserap pada hari kedua dan pada hari ketiga kuning telur sudah tidak nampak lagi. Mulut sudah terbentuk dan terbuka pada hari pertama.

F.     LINGKUNGAN PERAIRAN IKAN PATIN JAMBAL
Ikan patin jambal termasuk golongan benthopelagic (perenang cepat ), di alam ikan ini hidup perairan tawar  sampai perairan payau,  kisaran derajat keasaman (pH): 6 - 7.5 , sedangkan  kisaran kedalaman  - 50 m, dan suhu perairan berkisar 23 - 28°C.   Untuk itu agar budidayanya dapat berjalan baik,  nilai pH hendaknya minimal 6. Kualitas air lainnya seperti kadar oksigen  terlarut di sungai dan danau atau waduk biasanya tinggi lebih besar dari kadar minimal, yaitu 5 mg/liter. Sebaiknya air jernih dengan daya cerah minimal 70 cm. Suhu sebaiknya berkisar 23-30o C.

Referensi:
Djajadiredja, R., Sri Hatimah, Z. Arifin. 1977. Buku pedoman pengenalan sumber perikanan darat. Direktorat Jenderal Perikanan. Dep. Pertanian. Jakarta.
Hardjamulia, Atmadja. 1975. Budidaya ikan introduksi. SUPM. Bogor.
Hardjamulia, A., R. Djajadiredja, S. Atmawinata dan D. Idris. 1981. Pembenihan ikan jambal siam (Pangasius sutchi) dengan suntikan ekstraks kelenjar hipofisa ikan mas (Cyprinus carpio). Bul. BPPD, Vol.1 No. 2.
Hardjamulia, A., T. H. Prihadi dan Subagyo, 1986. Pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan dan daya kelangsungan hidup benih ikan jambal siam (Pangasius sutchi). Bul. Penelitian Perikanan Darat, Vol.5 No.1 : 111 - 117.
Huisman, and Richter, C.J.J.   1987.   Reproduction, Growth, Health Control and Aquaculture Potential of The African Catfish, Clarias gariepinus.  Elsevier Science.  Publishers B.V., Amsterdam. P: 1 – 10.
Kottelet, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari and S. Wirjoatmodjo, 1993. Freshwater fishes of western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited. Jakarta.
Permana, Edy. 1987. Perkembangan larva ikan jambal siam (Pangasius sutchi Fowler). Tesis. Institut Pertanian Bogor.
Prihastowo, Hary. 1987. Pengaruh frekuensi pemberian makanan terhadap kelangsungan hidup burayak jambal siam (Pangasius sutchi Fowler). Tesis. Institut Pertanian Bogor.

Roberts, T. and C. Vidthayanon. 1991. Systematic revisaion of the Asian catfish family Pangasidae, with biological observations and descripsions of three new species. Proc. Acad. Nat. Sci. Philadelphia.


Sumber : Fahrur Razi, SST. 2013. Leaflet Perikanan "Aspek Biologi Ikan Patin Jambal"

Untung Besar dari Bisnis Budidaya Lobster Air Tawar

  Memiliki warna biru yang cerah disertai bentuk tubuh yang terlihat kekar dan anggun menjadikan lobster air tawar menarik dijadikan hiasan ...