Rabu, 04 April 2018

Teknik Budidaya Ikan Sepat Siam


PENDAHULUAN
Ikan Sepat Siam merupakan ikan asli negara Thailand.  Di habitat aslinya, ikan ini hidup di rawa - rawa yang banyak ditumbuhi tanaman airnya, karena ikan ini butuh substrat sebagai tempat melatakkan busa untuk telur - telurnya.
Meskipun ikan ini tidak begitu populer dikalangan masyarakat luas, namun ikan ini cukup dikenal di Indonesia. Meskipun ikan ini adalah ikan untuk konsumsi, tapi pada ukuran kecil ikan ini bisa dijadikan sebagai ikan hias, karena bentuk tubuh dan warnanya sangat menarik.
DESKRIPSI IKAN SEPAT SIAM
Ikan sepat siam merupakan ikan asli  negara Thailand, dan hidup di rawa-rawa. Ikan ini di datangkan ke Indonesia pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka.
Sistematika
Ordo                        : Labyrinthici
Sub Ordo                 : Anabantoidae
Famili                      : Anabantidae
Genus                      : Trichogaster
Species                    : Trichogaster pectoralis

Ciri-ciri
-    Badan memanjang, pipih kesamping (compressed), tinggi badan 2,2 sampai 3 kali panjang standar.  Sirip punggung mempunyai 7 buah duri dan 10-11 jari-jari sirip lemah, sirip dada lebih panjang daripada kepala, mulut sangat kecil dan dapat disembulkan.
-    Jari-jari sirip perut yang pertama mengalami modifikasi menjadi filamen yang panjang mencapai sirip ekor. Linealateralis (1.1.) terdiri dari 42-47 sisik.  Pada daerah punggung badan hijau kegelapan sedangkan pada bagian badan sebelah sampaing sisik lebih terang.  Pada kepala dan badan terdapat garis-garis yang melintang dan dari mata sampai ke ekor terdapat garis memanjang yang terputus.  Pada sirip dubur terdapat 2-3 garis hitam yang memanjang (longitudinal).Panjang ikan maksimum yang dapat dicapai  ± 250 mm.Rumus jari-jari sirip sebagai berikut :D.VII. 10-11;  A. IX-XII.  33-38;  L.1.  55-63.

Sifat-Sifat
Sepat siam merupakan ikan sungai dan rawa yang cocok sekali di pelihara di kolam-kolam.  Jenis ikan ini dapat hidup pada perairan yang pH-nya berkisar antara 4 - 9.  Jenis ikan ini mudah dibiakkan di sawah dan kolam.  Kematangan kelamin mulai terjadi pada  umur 7 bulan.  Pembiakan terjadi dengan terlebih dahulu ikan tersebut membuat sarang berupa gelembung-gelembung  (busa) yang bergaris tengah ± 5 cm.  Telur yang dihasilkan akan terapung berada pada sarang tersebut.  Seekor induk yang bertelor dapat menghasilkan 7000-8000 butir telor, sedangkan larva yang hidup biasanya tidak lebih dari 4000 ekor.
Telur berwarna kuning  atau putih kekuning-kuningan, mengandung globul minyak sehingga mempunyai sifat mengapung, dan embrio menetas setelah 36-48 jam dari pembuahan.  Kantong kuning telur diserap dalam waktu 3-7 hari.  Pemijahan dikolam terjadi sepanjang tahun.  Lava dan benih memakan plankton.  Ikan-ikan dewasa memakan phytoplankton seperti Bacillariphyceae, Cyanophyceae, plagellata, Zooplankaton seperti Cilliata, Rotifera, Cladocera, Copepoda, Cholorophyceaedan tumbuh-tumbuhan tinggi yang membusuk.
Pertumbuhan di kolam dan di sawah mencapai 7-9 cm dalam waktu 3 bulan, 10-12 cm dalam waktu 6 bulan dan 16-18 cm dalam waktu 12 bulan.  Berat ikan yang besar antara 130-160 gram.  Pemeliharaan yang baik adalah di daerah-daerah ketinggian sampai 800 meter dpl.
Penyebaran
Tempat asal ikan sepat siam adalah Thailand.Indonesian mendatangkan ikan ini pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka. Kemudian jenis ikan ini karena habitat asalnya adalah rawa-rawa, ditebarkan pula didaerah rawa-rawa diperairan Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
Di Sumatera Selatan ikan ini berbiak dengan cepatnya dan kini jenis ikan ini merupakan ikan penting yang mendominasi daerah rawa.  Hasil penangkapan suatu perairan umum di sumatera selatan, 60% adalah sepat siam.  Jenis ikan ini ditangkap dengan macam-macam alat seperti pangilar (sejenis perangkap) dibuat dari kawat atau rotan, pukat (gill net) dan empang - lulung terbuat dari bambu  dengan rotan sebagai pengikatnya.  Demikian pula halnya di perairan Kalimantan, jenis ikan ini mempunyai peranan penting.  Jenis ikan ini telah dibawa pula ke Bali, Lombok, Flores dan Ambon.Pada umumnya jenis ikan ini diolah sebagai ikan asin yang diekspor ke Jawa.
Pemeliharaan ikan sepat siam di kolam-kolam di Jawa kurang popular, meskipun di daerah daratan rendah banyak pula yang memelihara. 

 PROSES BUDIDAYA
Pemeliharaan
Pemeliharaan ikan sepat siam dilakukan di kolam atau di sawah, terutama di daerah-daerah dataran rendah atau di rawa-rawa yang pH-nya sedikit asam atau di kolam-kolam tergenang tanpa adanya aliran air sehingga zat asam minimal. Ikan sepat siam adalah ikan yang mempunyai alat labyrinth sehingga kekurangan zat asam tidak merupakan masalah besar.
Di Kalimantan Selatan pemeliharaan sepat siam dilakukan dalam beje-beje yang dibuat di sawah atau di rawa berupa saluran-saluran berukuran lebar ± 2 m dan tinggi       1 - 1,5 m sedangkan panjangnya tidak tertentu.  Saluran ini pada musim hujan tergenang air bila air hujan turun pada musim kemarau maka ikan akan berkumpul dan dapat dilakukan penangkapan dengan  mudah. 
Pemeliharaan ikan sepat siam di sawah biasanya dikombinasikan dengan ikan jenis lain atau poli kultur.  Pada pemeliharaan di sawah sebaiknya saluran pinggir atau saluran tengah diperdalam, agar plankton yang dihasilkan cukup tersedia.
Perkembangbiakan
Untuk membiakan jenis ikan ini tidak diperlukan perlakuan khusus seperti pada halnya ikan-ikan mas, tawes atau gurame.  Ikan sepat dapat berbiak di kolam pemeliharaan dengan sendirinya.  Tumbuh-tumbuhan air seperti Hydrilla persicillata dan air yang cukup zat asam diperlukan.
Kolam pemijahan hendaknya agak dalam yaitu sekitar 70 - 100 cm, dan pada waktu pemijahan terjadi kolam hendaknya berair diam sehingga pemasukan air cukup untuk mengganti air yang hilang karena penguapan atau merembes. Tumbuh-tumbuhan air yang mengapung baik sekali disediakan untuk menutup sebagian kecil permukaan saja.  Pada waktu pemijahan maka ikan jantan akan membuat sarang terlebih dahulu.  
Pembuatan sarang dilakukan selama 1 - 2 hari.  Gelembung - gelembung udara (buih) yang membentuk sarang tersebut bergaris tengah 1,5 - 3 mm.  Pada waktu pembuatan sarang tersebut ikan - ikan lain tidak diperkenankan mendekat.  Jika ada ikan yang mendekat maka akan dikejarnya sehingga keluar dari daerah territorial tempat  sarang  dibuat.   Sarang  biasa dibuat dari bagian tepi atau di sudut - sudut.  Setelah sarang siap maka ikan jantan memikat betina dan pemijahan terjadi di bawah sarang.
Telur yang telah dibuahi tadi mengapung sampai mencapai sarang tersebut.  Telur menetas setelah 2 - 3 hari.  Telur kemudian dijaga oleh jantan, terutama dari gangguan-gangguan lain yang mendekat.

Untuk mengembangbiakkan ikan sepat siam ini sebaiknya kolam dipersiapkan dengan pengeringan, pemupukan dan sebagainya, agar hama benih dapat hilang dan benih cukup mendapat makanan terutama makanan alami (Zooplankton).
PENANGANAN PENYAKIT
Jenis Penyakit
GejalaKlinis
Pengobatan
Bahan Kimia
BahanAlami
Cyclochaeta
·    Pendarahan pada insang
·    Ikan tidak mau makan
·    Ikan mengap-mengap di permukaan air
Direndam dalam larutan  NaCL 2 ½ % selama 0,5 jam dengan berturut-turut selama 3 hari.

Haluskan kunyit ± 100 gr, dan campur dengan 2 lt air, Masukkan ikan yang terkena penyakit ini selama  ±      5 - 10 menit. Pengobataninidilakukansampaiikanbenar-benarsembuh.
Dactylogirus
·    Pada lembaran insang  dapat terlihat bintik merah yang disebabkan oleh pendarahan kecil (peradangan)
·    Tutup insang mengembang dan lembaran-lembaran insang pucat
Rendam dalam larutan KMNO4  Sebanyak 0,1 % atau 2% larutan NaCL selama 0,5 jam atau 0,5 % larutan NH4OH direndam selama 10 menit.


Dengan menggunakan Jengger Ayam: Caranya rebus 10  bunga segar dalam 4 gelas air, setelah dingin gunakan air untuk mengobati luka dengan cara merendamnya  selama ± 15 menit.
Gyrodactilus
·    Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan memproduksi banyak lendir.


Rendam ikan dalam larutan malachyt green, sebanyak 1 gram yang telah dilarutkan dalam air sebanyak 500 cc air selama0,5 –1 jam. Ulangipengobataniniselama 3 hariberturut-turut. 
Denganmenggunakandaunmiana: Caranya    rebus 7 gr daunmianasegardalam 500 ml air, setelahdingingunakan air untukmengobatilukadengancaramerendamnyaselama ± 15 menit.



DAFTAR PUSTAKA
Azis D.A. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Sepat Siam Sehat Produksi Meningkat”.  Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Daelami, Deden A.S. 2002. “Agar Ikan Sehat” Jakarta: Penebar Swadaya.
Dalimartha, S. 2004. “Atlas Tumbuhan Obat Indonesia”, Anggota IKAPI, Puspita Swara.

Suyanto, S. Rachmatun. 1995.  “Parasit Ikan dan Cara-cara Pemberantasannya”. Jakarta: Yayasan Sosial Tani Membangun.

Sumber : Fahrur Razi, SST. 2014. Folder Perikanan " Teknik Budidaya Ikan Sepat Siam"

Selasa, 27 Maret 2018

Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo


PENDAHULUAN
Lele dumbo merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang dikenal masyarakat karena harganya relatif murah dibanding ikan lainnya, namun cita rasanya banyak disukai masyarakat. Ikan lele dumbo senang hidup dalam eadaan air yang agak tenang dan kedalamannya cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin akan oksigen seperti air genangan, air limbah atau buangan. Hal itu disebabkan ikan lele mempunyai pernapasan tambahan disamping insangnya yang biasa.
Masalah yang banyak timbul dimasyarakat dalam usaha budidaya lele dumbo adalah cara menghasilkan benih yang lebih banyak namun tetap dapat berkesinambungan. Salah satu upaya peningkatan produksi benih lele dumbo adalah dengan pembenihan secara buatan, pemeliharaan secara intensif dan pengendalian penyakit.

DISKRIPSI
Klasifikasi lele dumbo
                Phylum    : Chordata
Kelas       : Pisces
Subkelas  : Teleostei
Ordo        : Ostareophyci
Famili      : Claridae
Genus      : Clarias
Spesies    : Clarias gariepinus
Morfologi
Bentuk badan memanjang, bagian kepala gepeng atau pipih, batok kepala umumnya keras dan meruncing kebelakang. Seluruh bagian tubuhnya mulai dari ujung moncong mulut hinga bagian ekornya tidak bersisik.
Seluruh bagian tubuhnya menjadi pucat bila terkena sinar matahari, dan akan diwarnai noda hitam atau putih dan totol-totol bila stress, naun keadaan ini akan segera normal apabila habitatnya sesuai dengan kemampuannya. Ikan ini dijuluki catfish, karena kumisnya mirip dengan kumis kucing, yakni memiliki empat pasang sungut disekitar mulut. Sepasang sungut hidung,, sepasang sungut maksilar dan dua pasang sungut mandibular. Sungut maksilar berfungsi sebagai tentakel yakni alat untuk meraba. Insangnya berukuran keci dan terletak dikepala bagian belakang. Lele dumbo mempunyai lima buah sirip yang terdiri dari sirip pasangan dan sirip tunggal. Sirip yang berpasangan adalah sirip dada, dan sirip perut. Sedangkan yang tunggal adalh sirip punggun dan sirip ekor. Serta sirip dubur. Pada sirip dada dilengkapi dengan patil atau taji tidak beracun. Selain kemampuannya meloloskan diri dari kolam piaraan dengan cara melompat, iapun sanggup merangkak diatas tanah tanpa air dalam  waktu cukup lama asalkan lembab. (Santoso 1994).
Habitat
Semua perairan tawar dapat menjadi lingkungan hidup atau habitat lele dumbo seperti waduk, danau, rawa dan genangan air tawar lainnya. Dialalm bebas, ikan ini lebih menyukai air yang arusnya mengalir secara perlahan atau lambat. Lele dumbo awalnya hidup liar disungai- sungai ,rawa dan semua habitat air tawar. Setelah diternakan secara intensif, ternyata lele dumbo dapat tumbuh dengan cepat. Sungai, karamba, drum, adalah tempat yang cocok untuk pemeliharaan atau pembesaran., bahkan air comberan, tanah sawah dengan kedalaman 10 cm sekalipun asalkan terdapat tempat berlindung seperti bebatuan, karang atau kaleng bekas bisa digunakan.
Tingkah laku
Salah satu sifat lele dumbo adalah suka menloncat kedarat terutama pada malam hari. Munculnya sifat ini karena lele dumbo merupakan binatang malam yakni banyak melakukan aktivitasnya dimalam hari (nocturnal). Sifat ini akan tampak saat lele dumbo akan mencari makan. Itulah sebabnya lele dumbo akan lebih suka berada ditempat gelap dibanding ditempat yang terang.
Kebiasaan makan
Lele dumbo memiliki kebiasaan mencari makan didasar kolam  (bottom feeder) sehingga air kolam sering menjadi keruh. Lele dumbo juga dikenal rakus, karena mempunyai ukuran mulut yang cukup lebar sehingga mampu menyantap makanan alami didasar perairan, dan pakan buatan seopert pellet. Oeh karenanya lele dumbo digolongkan sebagai pemakan segala (omnivora). Makanan seperti bangkai ayam, bebek ,angsa, dan      unggas  lainnya di lahapnya dengan menggunakan gigi nya yang terletak pada rahang dan mencabik-cabiknya higga tinggal tulang (scavenger).

BUDIDAYA
Perkembang biakan
Perkembang biakan lele dumbo dapat dilakukan secara alami dan atau secara buatan. Pemijahan alami dapat dilakukan dalam bak semen atau bak kayu yang dilapisi plastik berukuran 2x1x1 meter, dilengkapi kakaban sebagai substrat untuk penempel telur dan penutup bak dari kayu, seng atau kawat kasa agar lele tidak meloncat keluar. Sedangkan pemijahan buatan atau lebih populer dengan istilah kawin suntik, dilakukan dengan jalan menyuntikan hormon tertentu kedalam tubuh ikan yang akan dipijahkan untuk merangsang terjadinya ovulasi. Hormon yang digunakan untuk penyuntikan biasanya menggunakan kelenjar hypophisa ikan sejenis atau ikan mas yang bersifat universal, dan atau menggunakan hormon buatan seperti HCG, LHRH atau ovaprim yang sudah banyak dijual dipasaran. Dalam prosesnya, pemijahan buatan pada lele dumbo dapat dilakukan melalui pembuahan alami dan pembuahan buatan.
Pemeliharaan larva
Larva lele yang baru menetas masih mempunyai persediaan makanan dalam bentuk kuning telur(yolk salc) sehingga tidak perlu diberi pakan sampai umur 4 hari. Mulai hari ke 5, larva diberi pakan cacing tubifek yang telah di cincang halus atau daphnia sampai larva siap ditebar kekolam atau bak pendederan.
Pendederan
Persiapan kolam pendederan untuk lele dumbo sama halnya seperti persiapan kolam pendederan untuk jenis ikan budidaya lainnya, Benih yang akan ditebar sebaiknya sudah kuat dan lincah serta sudah terbiasa memakan makanan tambahan. Padat tebar bisa bervariasi, dan tergantung  pada kesuburan kolam, yang penting tidak melebihi ambang daya dukung kolam (carrying capacity). Pakan tambahan yang diberikan adalah pelllet yang telah digiling halus sebanyak 10-15 %, diberikan 3 kali perhari. Lama pemeliharaan di kolam penderan I selama 21 hari, atau setelah benih mencapai ukuran 2-3 cm. Produksi benih yang dihasilkan perkilogram induk bisa mencapai 40.000 – 60.000 ekor ukuran 2-3 cm.

PENGELOLAAN PENYAKIT IKAN

 
Lele dumbo merupakan jenis ikan tidak besisik sehingga lendir merupakan salahsatu pelindung dari gangguan lingkungan. Akibatnya  bila terluka dengan sangat mudah terjadi pengeluaran lendir yang berlebihan dari tubuhnya. Lendir ini dapat dijadikan media hidup bakteri, dan dengan menempelnya bakteri pada lendir, maka dengan segera kuman penyakit masuk hingga kedalam tubuh lele dumbo. Terjadinya luka inilah yang menjadikan ketahanan tubuh lele dumbo menurun dan menyebabkan sakit.  Namun kebanyakan patogen yang terlibat biasanya bersifat fakultatif yaitu organisme yang hanya menimbulkan penyakit dalam kondisi tertentu saja. Organisme semacam ini secara normal memang hidup dan berada pada berbagai jenis perairan, dan hanya menyebabkan terjadinya penyakit bila daya tahan tubuh lele dumbo menurun atau kelimpahan mahluk tersebut kelewat tinggi. Daya tahan tubuh lele dumbo  biasanya berkurang bila ada dalam kondisi stress yang diakibatkan berbagai faktor terutama lingkungan yang meliputi faktor fisik, kimiawi maupun biologis.
Dengan demikian terjadinya wabah sebetulnya merupakan akibat interaksi yang tidak seimbang antara ikan sebagai subyek patogen, patogen itu sendiri serta kondisi lingkungan. Sebenarnya, semua jenis ikan mempunyai kekebalan terhadap penyakit selama ikan tersebut hidup dalam kondisi lingkungan yang baik dan tidak ada faktor yang memperlemah badannya. Penyakit ikan dapat berkembang akibat bermacam macam faktor antara lain trauma pengangkutan, kekurangan pakan, perubahan sifat fisika dan kimia air serta epidemi dari suatu penyakit. Untuk mencegah dan mengobati suatu penyakit maka perlu diketahui hal- hal yang berkaitan dengan timbulnya penyakit, cara cara dan dosis pengobatan yang tepat agar diperoleh hasil yang baik.

4.1.       UPAYA PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan terutama ditujukan untuk mencegah masuknya wabah penyakit kedalam tempat budidaya ikan,  atau mencegah meluasnya wilayah yang terkena serangan penyakit dalam upaya mengurangi kerugian produksi akibat timbulnya wabah penyakit.
Beberapa tindakan upaya pencegahan antara lain melalui sanitasi kolam, alat-alat, ikan yang akan dipelihara serta lingkungan tempat budidaya.
a. Sanitasi kolam
Sanitasi kolam dilaksanakan melalui pengeringan, pemjemuran dan pengapuran dengan kapur tohor atau kapur pertanian sebanyak 50-100 gram/m2  yang ditebar secara merata dipermukaan tanah dasar kolam dan sekeliling pematang kolam. Setelah dikapur biarkan dalam keadaan kering selama 3-5 hari, baru kemudian kolam dipupuk dan diairi. Bahan lain yang bisa digunakan untuk sanitasi kolam diantaranya kalium permanganat (PK) yang ditebarkan pada kolam yang telah diairi sebanyak 10-20 gram/m3 air dan dibiarkan selama 2 jam, baru kemudian dimasukan air baru dan ditebari ikan setelah kondisi air normal kembali.
b. Sanitasi perlengkapan dan peralatan.
Perlengkapan dan peralatan kerja sebaiknya selalu dalam keadaaan suci hama, dengan cara merendamnya dalam larutan PK atau larutan kaporit selam 30-60 menit. Pengunjung dari luarpun sebaiknya tidak sembarangan memegang dan atau mencelupkan bagian tubuh kedalam media air pemeliharaan sebelum disuci hamakan.
c. Sanitasi Ikan tebaran
Lele dumbo yang akan ditebarkan sebaiknya selalu diperiksa dahulu. Bila menunjukan gejala kelainan atau sakit maka lele tersebut harus dikarantinakan terlebih dahulu untuk diobati. Namun lele dumbo yang akan ditebar dan dianggap sehat pun, sebelum ditebar sebaiknya direndam dahulu dalam larutan PK dengan dosisi 20 gr/m3 air, atau dalam larutan methylin blue 20 ppm, atau dengan formalin 1cc/10 liter air, masing – masing selama 10 -15 menit. Bila sanitasi ikan tebaran akan menggunakan obat-obatan alami dapat dilakukan dengan cara merendam lele dumbo yang akan di tebar dalam ektrak cair sambiloto dengan dosis 25 ppm, atau dalam ektrak cair rimpang kunyit dengan dosis 15 ppm atau dapat juga menggunkan ektrak cair daun dewa dengan dosis 25 ppm, perendaman masing masing selama 30 -60 menit. 
d. Menjaga lingkungan tempat budidaya
Upaya perlindungan gangguan dari penyakit lele dumbo adalah dengan menjaga kondisi lingkungan atau kondisi ekologis perairan dengan cara setiap kolam /bak pemeliharaan lele dumbo diusahakan mendapat air yang baru dan masih segar, telah melalui sistem filtrasi dan diusahakan agar bahan- bahan organik seperti sampah yag memungkinkan masuk kedalam kolam sedapat mungkin dihindari.

DAFTAR PUSTAKA
Prihartono Eko, Juansyah R, dan Usni Arie, Mengatasi Permasalahan   Budidaya Lele dumbo. Penebar swadaya, Jakarta   2001.
Susanto, H. Ikan Lele. Kanisius Yogyakarta
Sudewo, Bambang. Tanaman Obat Populer, Agro Media Pustaka, Jakarta. 2004.

Syambas M. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Lele Dumbo Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.


Sumber : Fahrur Razi, SST. 2014. Folder Perikanan " Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo"

Jumat, 09 Maret 2018

Teknik Pembenihan Ikan Baung

PENDAHULUAN

Baung adalah nama segolongan ikan yang termasuk kedalam marga Hemibagrus, suku Bagridae. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan Asia Tenggara ini juga dikenal dengan banyak nama daerah, seperti ikan duri, baong, baon, bawon, senggal atau singgah, tagih, niken, siken, tiken, tikenbato, dan lain-lain.
Ikan baung (Mystus nemurus) merupakan komoditas perikanan air tawar di Indonesia. Ikan ini telah berhasil dipijahkan secara buatan di BBAT Sukabumi sejak tahun 1998. Tekstur dagingnya berwarna putih, tebal dan tampa duri halus dalam dagingnya, sehingga sangat digemari masyarakat.
Sebelum produksi ikan baung umumnya berasal dari penangkapan di alam, sehingga hasilnya tidak menentu baik dari jumlah maupun ukurannya. Dengan diketahuinya teknik pemijahan ikan baung, diharapakan usaha pembudidayaannya akan berkembang sehingga produksinya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

SISTEMATIKA

Phylum Chordata, Kelas Pisces, Anak kelas Teleostei, Bangsa Ostariophysi, Anak Bangsa Siluridae, Suku Bagridae, Marga Mystus dan Jenis Mystus nemurus.
Ikan baung memiliki kumis  atau sungut yang mencapai mata, badanya tidak bersisik mempunyai sirip dada dan sirip lemak yang besar, serta mulutnya melengkung. Ikan baung berwarna coklat kehijauan, hidup di dasar perairan dan bersifat omnivora.
Di Jawa Barat ikan baung dikenal dengan nama tagih, senggal atau singah : Di Jawa tengah : Jakarta dan Malaysia, bawon ; Serawak, baon : Kalimantan Tengah, niken, siken, tiken, bato, baungputih, dan di Sumatra, baong.
Ciri-ciri induk Jantan dan betina ikan baung:
-        Induk betina :tubuh lebih pendek , mempunyai dua buah lubang kelamin yang bentuknyabulat.
-        Induk Jantan :Tubuh lebih panjang, mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya memanjang.

PEMBENIHAN

A.  Pematangan Gonad

Pematangan gonad dilakukan di kolam beraliran air yang kontinyu dengan kepadatan 0,2 s/d 0,5 kg/m2. Setiap hari diber ipakan pellet sebanyak 3 s/d 4 % per hari dari berat tubuhnya.

B.  Seleksi Induk

o   Seleksi induk bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan induk yang akan dipijahkan.
o   Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan lembut, bila diurut telur yang keluar bentuknya bulat utuh berwarna kecoklatan.
o   Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan.

C.  Penyuntikan

o   Induk betina disuntik dengan ovaprin sebanyak 0,6 ml/kg dan jantan dengan ovaprin 0,5 ml/kg. Penyuntikan dilakukan dua kali dengan selang waktu 12 jam. Setiap penyuntikan sebanyak ½ dosis total.
o   Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung

D.  Pemijahan/Pengurutan

o   Apabila akan dipijahkan secara alami, induk jantan dan betina yang sudah disuntik disatukan didalam bak yang telah diberi ijuk dan biarkan memijah sendiri.
o   Apabila akan diurut, maka pengurutan akan dilakukan 6 s/d 8 jam setelah penyuntikan kedua.
o   Langkah pertama adalah menyiapkan sperma: ambilkan tong sperma dari induk jantan dengan membedah bagian perutnya, gunting kantong sperma dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam gelas  yang sudah diisi NaCl 0,9 % sebanyak ½ bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih susu agak encer.
o   Ambil induk betina yang akan dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut kearah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur dimpung dalam mangkok plastik  yang bersih dan kering. Masukkan larutan sperma sedikit demi sedikit dan aduk sampai merata. Agar terjadi pembuahan, tambahkan air bersih dan aduklah sampai merata sehingga pembuahan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan pembilasan 2 s/d 3 kali agar bersih.
o   Telur yang sudah bersih dimasukkan dalam akuarium penetasan yang sudah diisi air. Cara memasukkan, telur diambil dengan bulu ayam, lalu sebarkan keseluruh permukaan akuarium sampai merata. Dalam 36 jam telur akan menetas dan larva yang dihasilkan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan larva. Setelah berumur dua hari, larva diberimakan kutu air (Moina atau Daphnia) atau cacing sutra (Tubifex) yang telah dicincang. Setelah berumur 4 hari larva diberi makan cacing sutra hingga berumur tujuh hari.

E.  Pendederan

o   Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva, yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.
o   Pengapuran dilakukan dengan melarutkan kapur tohor kedalam tong, kemudian disebarkan keseluruh pematang dan dasar kolam. Dosisnya 50 gr/m2.
o   Pemupukan menggunakan kotoran ayam yang sudah dikeringkan dengan dosis 500 s/d 1.000 gr/m2. Kolam diisi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari disemprot dengan organophospat 4 ppm dan dibiarkan selama 4 hari.
o   Benih ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 ekor/m2.
o   Pendederan I dilakukan selama 14 hari, pendederan II dilakukan selama 30 hari. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa tepung pellet sebanyak 0,75 gr/1.000 ekor.

PENYAKIT

Penyakit yang sering menyerang ikan baung adalah Ichthyop thirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintikputih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharan atau merendam ikan yang sakit kedalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/liter.

 


Referensi:
BBPBAT Sukabumi. Teknik Pembenihan Ikan Baung. BBPBAT Sukabumi.



Sumber tulisan : Fahrur Razi, SST, 2015.Folder Penyuluhan Perikanan "Teknik Pembenihan Ikan Baung"

Untung Besar dari Bisnis Budidaya Lobster Air Tawar

  Memiliki warna biru yang cerah disertai bentuk tubuh yang terlihat kekar dan anggun menjadikan lobster air tawar menarik dijadikan hiasan ...